
Salah satu alasan kenapa PESANTREN masih menjadi pilihan dari masyarakat adalah bahwa ternyata satu diantara ORIENTASI dan TUJUAN pendidikan pesantren adalah membentuk pribadi yang utuh, mandiri, dan berakhlak tinggi.
Dan akhlak tinggi atau mulia itu melebihi KECERDASAN maupun KEPINTARAN seseorang.
Prof. Dr. Mukti Ali (mantan Menteri Agama) dalam suatu kesempatan pernah menyampaikan bhwa : "Pendidikan agama yang terbaik adalah di PESANTREN. Meskipun muridnya berjumlah seribu orang, mungkin setelah keluar dari pesantren yang jadi kiai hanya seorang. Tetapi semua keluaran pesantren menjadi orang shalih. Apalagi jika peraturan pesantren diperketat. Lain dengan lembaga pendidikan non pesantren. Tiap tahun bisa mencetak lulusan atau sarjana, tetapi yang menjadi orang shalih sedikit sekali."

Imam Ramli rahimahullah berkata, “Walaupun nikmat Allah Ta’ala tidak terhingga, tidak terbatas. Namun, sebenarnya bisa dipetakan menjadi dua:
1. NIKMAT DUNIA
Ini dibagi menjadi dua:
✅ 1. Nikmat pemberian Allah.
Ini pun dibagi menjadi dua:
- Nikmat Ruhani.
Seperti: tertiupnya ruh pada jasad manusia, akal yang menjadi kelebihan manusia dibanding lainnya dan hal yang selaras dengan akal, seperti: kekuatan, pemahaman, pikiran dan bisa berucap.
- Nikmat Jasmani.
Seperti: terciptanya badan, kekuatan yang menyelubungi badan dan keadaan yang bisa berubah-ubah, seperti: sehat dan sempurnanya anggota badan.
✅ 2. Nikmat yang bisa diusahakan.
Seperti: berusaha membersihkan diri dari hal-hal yang dianggap buruk syariat, menghiasi diri dengan etika yang luhur, merubah watak jelek menjadi baik, menghias diri dengan gerak-gerik yang indah, perhiasan dan berhasil menggapai pangkat serta harta.
2. NIKMAT AKHIRAT
Yakni: mendapat ampunan dan ridho dari Allah Ta’ala. Serta mendapatkan surga bersama malaikat Allah selamanya”.
(Sumber : kitab Fathul Jawwad Mandzumah Imam ibn ‘Imad hal. 6, karya Imam Ramli rahimahullah)
Wallahu a'lam.
Semoga kita bisa merasakan dan mendapatkannya. Selanjutnya mensyukurinya. Aamiin aamiin aamiin….

Setan mempunyai banyak pintu masuk menuju hati. Karena itu, engkau, wahai -orang mukmin, harus menutupnya.
Salah satu pintu utamanya adalah nafsu dan amarah. Amarah adalah perusak akal. Jika bala tentara akal melemah, bala tentara setan akan datang menyerang.
Salah satu pintu utama yang lain adalah iri hati dan tamak. Bilamana seorang hamba berlaku tamak terhadap apa pun, ketamakan itu akan membuatnya buta dan tuli. Rasulullah shallallahu alaihi wa aalihi washahbihi wasallam pernah bersabda, “Kecintaanmu kepada sesuatu bisa membuatmu buta dan tuli.”
Pintu utama lainnya adalah kenyang, meskipun dari makanan yang halal dan bersih. Sesungguhnya kenyang bisa menguatkan nafsu, padahal nafsu adalah senjata bagi setan. Dikisahkan bahwa iblis menampakkan diri kepada Nabi Yahya bin Zakaria. Lantas Nabi Yahya melihat berbagai macam kail yang dibawa iblis. Beliau lalu bertanya, “Hai Iblis, apa gerangan kail-kail itu?” Iblis menjawab, “Ini adalah ragam nafsu yang kuhantamkan kepada anak-cucu Adam.” Nabi Yahya kembali bertanya, “Lalu adakah salah satu kail itu pada diriku?” Iblis menjelaskan, “Mungkin engkau kekenyangan sehingga membuatmu berat untuk mengerjakan shalat dan berdzikir.” Nabi Yahya bertanya lagi, “Adakah yang lain?” Iblis menjawab, “Tidak.” Kemudian Nabi Yahya mengatakan, “Demi Allah, selamanya aku tidak akan lagi memenuhi perutku dengan makanan.” Lalu iblis membalas, “Demi Allah, selamanya aku tidak akan lagi menasihati seorang Muslim.”
Pintu utama yang lain adalah kemewahan dalam perabotan, pakaian, dan rumah. Jika setan melihat kemewahan telah menguasai hati seseorang, ia akan bertelur dan menetas di hati tersebut. Ia akan senantiasa mendorong orang tersebut untuk memperbanyak benda-benda tersebut dan bermewah-mewahan dengannya sehingga usianya berlalu dalam kelalaian dan ia dikejutkan dengan datangnya ajal.
Pintu utama lainnya adalah mengharap pujian manusia. Jika sifat ini sudah menguasai hati seseorang, setan akan senantiasa membuatnya senang untuk bersikap berpura-pura, sok manis, berlaku riya, dan melakukan tipu daya di depan orang yang menjadi objeknya, sehingga objek tadi seakan-akan sudah menjadi sembahannya. Orang yang mencari muka akan senantiasa memikirkan cara untuk membuat objeknya menyukai dirinya. Ia pun akan memuji objeknya dengan ucapan-ucapan manis yang melenakan, menyembunyikan keburukan-keburukannya, tidak menyerunya kepada kebaikan, dan tidak melarangnya dari kemungkaran.
Pintu masuk lainnya yang utama adalah tergesa-gesa dan tidak melakukan verifikasi. Rasulullah shallallahu alaihi wa aalihi washahbihi wasallam bersabda, “Tergesa-gesa berasal dari setan, sedangkan berhati-hati dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.” Sebab, setiap pekerjaan seharusnya dilakukan setelah direncanakan dengan matang. Perencanaan sendiri memerlukan perenungan dan kehati-hatian. Adapun ketergesaan menolak hal tersebut.
Pintu utama lainnya adalah dirham, dinar, dan semua jenis harta benda, baik yang berupa barang, kendaraan, maupun benda tidak bergerak. Setiap harta yang melebihi kebutuhan adalah tempat berdiamnya setan.
Pintu masuk utama lainnya adalah sifat kikir dan takut miskin. Sifat tersebut mencegah seseorang untuk bersedekah dan mendorongnya untuk menimbun. Di antara dampak buruk yang timbul dari sifat kikir adalah kegemaran berada di pasar guna mengumpulkan uang, serta tempat-tempat lain yang di dalamnya terdapat penipuan, kebohongan dan tipu daya.
Salah satu pintu utama yang lain adalah fanatisme terhadap mazhab dan sekte; juga kedengkian dan penghinaan kepada lawan. Itulah sebagian di antara yang menghancurkan hamba-hamba Allah dan orang-orang fasik secara keseluruhan.
Salah satu muslihat setan adalah ia memalingkan manusia dari aib-aib dirinya, dengan berbagai perselisihan dan pertengkaran antar-madzhab. Abdullah bin Mas’ud menuturkan, “Sekelompok orang berkumpul dan berdzikir kepada Allah. Lalu setan mendatangi mereka dengan tujuan membuyarkan mereka dari majelis dzikir dan membuat mereka bercerai berai. Namun, ia tidak berhasil. Ia kemudian mendatangi kelompok lain yang sedang membicarakan urusan duniawi. Ia pun memecah—belah mereka sehingga mereka bangkit saling membunuh di antara mereka. (Namun, bukan kelompok kedua ini yang menjadi target setan.) Kelompok yang tadinya berdzikir kepada Allah lantas sibuk mengurus kelompok kedua dan mendamaikan mereka. Dengan kesibukan itu, kelompok pertama akhirnya membuyarkan diri dari majelis dzikir mereka. Itulah tujuan setan terhadap mereka.”
Pintu utama lainnya adalah pintu yang membawa orang-orang awam yang belum mendalami dan menguasai ilmu agama untuk memikirkan Dzat Allah Subhanahu wa Ta'ala., sifat-sifat-Nya, dan berbagai hal yang tidak bisa dicapai oleh nalar mereka sehingga mereka ragu terhadap pokok-pokok ajaran agama Islam atau tergambar di pikiran mereka berbagai persepsi tentang Allah yang tidak pantas disematkan kepada-Nya. Dengan demikian, orang-orang yang terjebak pada pintu ini bisa menjadi kafir atau pelaku bid’ah. Namun, mereka senang dan bahagia atas persepsi yang ada di dada mereka, seraya menyangkanya sebagai makrifat. Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa aalihi washahbihi wasallam pernah bersabda, “Sesungguhnya setan mendatangi salah seorang di antara kalian, lantas ia bertanya, ‘Siapakah yang menciptakanmu?’ Ia akan menjawab, ‘Allah Yang Mahasuci nan Mahaluhur.’ Setan bertanya lagi, ‘Siapa yang menciptakan Allah?’ Jika salah seorang di antara kalian mendapatkan pertanyaan seperti itu, hendaklah ia menjawab, ‘Aku beriman kepada Allah dan rasul-Nya.‘ Jawaban itu akan mengusir setan tersebut!’ Nabi shallallahu alaihi wa aalihi washahbihi wasallam tidak memerintahkan umatnya untuk membahas cara mengatasi bisikan setan seperti itu, karena bisikan seperti itu hanya menghinggapi orang-orang awam, bukan para ulama. Sementara itu, kewajiban orang awam hanyalah beriman, berserah diri, dan menyibukkan diri dengan ibadah dan urusan penghidupan.
Di antara pintu-pintu setan yang utama adalah buruk sangka terhadap orang-orang Muslim. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah sebagian besar prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa (QS. Al-Hujurat [49]: 12). Siapa yang menilai buruk orang lain lantaran prasangka, setan mendorongnya untuk memanjangkan lidah dengan menggunjingnya, mengurangi pemenuhan terhadap hak-haknya, atau memandangnya dengan pandangan sebelah mata. Semua itu termasuk perkara-perkara yang mencelakakan.
Selain itu, syariat Islam juga melarang kita memosisikan diri pada kondisi yang bisa menimbulkan tuduhan orang lain. Rasulullah shallallahu alaihi wa aalihi washahbihi wasallam bersabda, “Takutlah kalian (hindarilah) terhadap tempat-tempat yang bisa menjadikan kalian tertuduh.”
Suatu ketika Rasulullah berjalan bersama Ummul Mukminin Shafiyah radhiyallahu 'anha, mengantarnya pulang ke rumahnya. Lalu mereka berpapasan dengan dua orang Anshar. Rasulullah lantas menjelaskan kepada mereka, “Dia Shafiyah binti Huyai.” Mereka lalu mengatakan, “Ya Rasulullah, kami hanya berprasangka baik kepadamu.” Lalu Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya setan masuk ke diri anak-cucu Adam melalui aliran darah di dalam tubuhnya. Sungguh, aku khawatir setan akan masuk ke diri kalian.” Lihatlah bagaimana Rasulullah perduli dan menjaga agama dua orang sahabatnya. Lihatlah bagaimana beliau menyayangi umatnya dengan mengajarkan kepada mereka cara menjaga diri dari tuduhan orang. Meskipun seseorang sangat tinggi kezuhudan, ketakwaan, dan keilmuannya, sesungguhnya mata manusia tidak sama dalam menilainya. Ada yang menilainya dengan pandangan kasih sayang dan ada pula yang menilainya dengan pandangan kebencian. Karena itu, sebuah syair mengatakan:
Mata kasih terhadap setiap aib adalah lemah.
Tetapi mata kebencian menampakkan semua keburukan.
Maka, sudah seharusnya kita menjaga diri dari berburuk sangka dan tuduhan dari orang-orang yang tidak baik.
Jika sudah buruk perbuatan seseorang, buruk pula prasangka-prasangkanya dan ia memercayai tuduhan-tuduhan atas perbuatan yang ia sudah terbiasa dengannya.
Pintu-pintu masuk setan ini harus ditutup, hati harus dibersihkan dari sifat-sifat yang tercela dengan memperbanyak dzikir dan berserah diri kepada Allah, dan kita harus menuntut ilmu dan menjalin hubungan dengan orang-orang yang bertakwa.
Referensi : Amal Pemusnah Kebaikan Ringkasan Bab Mukhlikat Ihya ‘Ulum al-Din karya Al-Habib Umar bin Hafidz
Sumber: ahmadnoveljindan.org
Lintang Sanga
September 10, 2018
New Google SEO
Bandung, Indonesia
Ada seorang shaleh membacakan 100 kali surah Al-Ikhlas dan menghadiahkan kepada ibunya setiap hari. Walaupun sibuk, dia coba istiqamah melakukannya setiap hari.
Setelah beberapa lama, dia bermimpi bertemu ibunya. Di hadapan ibunya ada pinggan besar berisi seperti berlian. Dia melihat ada berlian yang bersih, dan cantik, dan ada juga berlian yang tidak begitu cantik. Ada juga yang terpecah, tak begitu sempurna.
Lalu, orang shaleh itu bertanya, “Wahai ibuku, apakah berlian-berlian yang ada di hadapanmu ini?” Jawab ibunya, “Inilah surah Al-Ikhlas yang sentiasa kau baca kepadaku.”
Kemudian, dia tanya lagi kenapa berbeda keadaan berliannya - ada yang bersih dan sempurna, tapi ada yang pecah, yang tidak bercahaya.
Ibunya menjawab, “Ini adalah karena cara kau membacanya, anakku.”
“Bilamana kau baca dengan cepat, sehingga ada huruf yang tertinggal, maka akan pecahlah sedikit daripada berlian itu.”
“Kadang-kadang kau baca dalam keadaan kau lalai, maka berlian itu sampai dalam keadaan tidak bercahaya.”
“Kadang-kadang kau baca dalam keadaan kehadiran hati yang betul, bacaan yang sempurna, maka berlian itu pun sampai dalam keadaan sempurna, bersih dan cantik.”
Ibrah :
Sesungguhnya bacaan Qur’an dan dzikir yang dibaca dan hadiahkan kepada orang yang meninggal akan menjadi pemberian, cahaya yang besar yang bermanfaat dalam perjalanan mereka menuju kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Tetapi inilah tidak bermakna hadiah Qur’an itu bertukar menjadi berlian, tetapi kiasan dalam mimpi ini adalah untuk menunjukkan bahawa hadiah itu menjadi pemberian bernilai agar boleh dipahami oleh orang-orang yang masih hidup.
Apapun amalannya, usahakan untuk lakukan sesempurna mungkin dan dengan hati yang hadir, agar menjadi ‘berlian' yang cantik, sempurna, dan indah.
Tausiyah dari Habib Kazim As-Saqqaf di-tarjim oleh Habib Nael bin Taher
[Majlis Ta'alim Dar Ar Ridwan]

Dari seluruh kaum dari umat-umat terdahulu, Allah mengkhususkan hari Jumat ini hanya bagi kaum muslimin. Di dalamnya banyak rahasia dan keutamaan yang datangnya langsung dari Allah.
Berikut adalah beberapa rahasia keagungan hari Jum/at:
Pertama, Hari keberkahan. Di hari Jum'at kaum muslimin berkumpul di masjid-masjid untuk mendengarkan dua khutbah Jum'at yang mengandung pengarahan dan pengajaran serta nasihat-nasihat yang ditujukan kepada kaum muslimin dan mengikuti shalat yang kesemuanya mengandung manfaat agama dan dunia. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah menyebut hari Jum'at memiliki 33 keutamaan. Bahkan Imam As-Suyuthi menyebut ada 1001 keistimewaan.
Kedua, Hari dikabulkannya do'a. Di antara rahasia keutamaan hari Jum'at lain adalah, di hari itu terdapat waktu-waktu dikabulkannya do'a. Waktu yang harus diantisipasi adalah setelah shalat ‘Ashar.
“Di hari Jum'at itu terdapat satu waktu yang jika seorang muslim melakukan shalat di dalamnya dan memohon sesuatu kepada Allah Ta’ala, niscaya permintaannya akan dikabulkan.’ Lalu beliau memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya waktu itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya pada hari Jum'at terdapat waktu mustajab bila seorang hamba muslim melaksanakan shalat dan memohon sesuatu kepada Allah pada waktu itu, niscaya Allah akan mengabulkannya.” (Muttafaqun Alaih)
Ketiga, Hari diperintahkannya shalat Jum'at. Rasulullah ﷺ bersabda, “Hendaklah kaum-kaum itu berhenti dari meninggalkan shalat Jum'at. Atau (jika tidak) Allah pasti akan mengunci hari mereka, kemudian mereka pasti menjadi orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim). Dalam riwayat lain Rasulullah ﷺ menyebutkan, “Shalat Jum'at adalah hak yang diwajibkan kepada setiap muslim kecuali empat orang; budak atau wanita, atau anak kecil, atau orang sakit.” (HR. Abu Dawud)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumu’ah : 9)
مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمْعَةِ وَاغْتَسَلَ ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنَ اْلإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامُهَا وَقِيَامُهَا
“Barangsiapa yang bersuci dan mandi, kemudian bergegas dan mendengar khutbah dari awal, berjalan kaki tidak dengan berkendaraan, mendekat dengan imam, lalu mendengarkan khutbah dan tidak berbuat sia-sia, maka baginya bagi setiap langkah pahala satu tahun baik puasa dan shalatnya..”
Keempat, Hari pembeda antara muslim dan non-muslim. Hari Jum'at adalah hari istimewa bagi kaum muslim. Selain itu diberikan Nabi untuk membedakan antara harinya orang Yahudi dan orang Nashrani.
Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, “Allah telah memalingkan orang-orang sebelum kita untuk menjadikan hari Jum'at sebagai hari raya mereka, oleh karena itu hari raya orang Yahudi adalah hari Sabtu, dan hari raya orang Nashrani adalah hari Ahad, kemudian Allah memberikan bimbingan kepada kita untuk menjadikan hari Jum'at sebagai hari raya, sehingga Allah menjadikan hari raya secara berurutan, yaitu hari Jum'at, Sabtu, dan Ahad. Dan di hari kiamat mereka pun akan mengikuti kita seperti urutan tersebut, walaupun di dunia kita adalah penghuni yang terakhir, namun di hari kiamat nanti kita adalah urutan terdepan yang akan diputuskan perkaranya sebelum seluruh makhluk.” (HR. Muslim)
Kelima, Hari Allah menampakkan diri. Dalam sebuah riwayat disebutkan, pada hari Jum'at Allah menampakkan diri kepada hamba-hamba-Nya yang beriman di Surga. Dari Anas bin Malik dalam mengomentari ayat: “Dan Kami memiliki pertambahannya”_ (QS.50:35) mengatakan: “Allah menampakkan diri kepada mereka setiap hari Jum'at.”
Masih banyak keistimewan hari Jum'at. Di antaranya adalah; dalam “Al-Musnad” dari hadits Abu Lubabah bin Abdul Munzir, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Penghulunya hari adalah hari Jum'at, ia adalah hari yang paling utama di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, lebih agung di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dari pada hari Idul Fitri dan Idul Adha. Pada hari Jum'at tersebut terdapat lima keistimewaan: Hari itu, bapak semua umat manusia, Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan, diturunkan ke dunia, dan wafat.. Hari kiamat tak akan terjadi kecuali hari Jum’at."
Karena itu, Rasulullah ﷺ, sangat memuliakan hari ini, menghormatinya, dan mengkhususkannya untuk beribadah dibandingkan hari-hari lainnya. Perlu diketahui bahwa hari Jum'at itu dimulai dari adzan Maghrib hari Kamis hingga sebelum adzan Maghrib hari Jum'at..
Sumber: http://santri.net
Semoga bermanfaat..
Semoga kita semua dapat meraih keutamaan dan keistimewaan hari Jum’at..

Kalimat di atas kerap sekali terdengar, menghenyakkan kita semua. Mempertanyakan kapasitas muktabaroh Ulama, dan membandingkan dengan Kanjeng Nabi yang memang jelas tidak berbanding sama sekali.
Jika tidak faham, maka akan jelas sekali seolah-olah banyak perkara yang dilakukan oleh Kiai bertentangan dengan Kanjeng Nabi .
Kiai itu tidak berpendapat melalui hayalan beliau sendiri, melainkan berdasarkan ajaran dari Kiainya Kiai juga. Demikian seterusnya hingga sanad bersambung kepada Kanjeng Nabi. Jadi tidaklah benar bahwa Kiai itu menyelisihi Kanjeng Nabi.
Ibaratnya, saat Kanjeng Nabi memerintahkan kita untuk “ngliwet sego”. Maka yang dilakukan Kiai bukan ‘sego diliwet’,melainkan akan ‘mususi’ beras, ‘dikaru’. Setelah setengah matang, ‘beras karon’ ini ditanak dalam dandang. Inilah yang disebut ngliwet sego .
Sementara, mereka yang tidak punya guru yang jelas sanadnya, begitu ada perintah Kanjeng Nabi untuk ‘ngliwet sego’ (masak nasi) maka yang mereka lakukan adalah mencari nasi untuk diliwet . Karena dalam hayalannya yang namanya ‘ngilwet sego’ berarti harus ada ‘sego’ kemudian ‘diliwet’. Tidak sampai di situ, mereka memprovokasi, mencaci maki dan mentertawakan serta menganggap kita bodoh, salah, menyelisihi Qura'n Hadits karena diperintahkan ‘ngliwet sego’, tapi malah kita ‘mususi beras’ dst .
Itulah gambaran bagi orang yang belajar dari Kiai dalam memahami Qur'an dan Hadits, jika mereka yang over percaya diri “memurnikan” Qur'an Hadits dan langsung mengambil hukum dari sumbernya, tanpa menggunakan ilmu alat .
Lalu, mereka akan mempertanyakan kepada kita, “Anda percaya dengan Nabi atau Kiai?”, seakan-akan Kiai kita itu salah dan tersesat dalam memahami nash suci. Bagi masyarakat awam, hal ini tentu akan bisa menjerumuskan mereka untuk tidak percaya lagi dengan para ulama muktabaroh an nahdliyyah .
Maka kita saksikan akhirnya, mereka beribadah, berijtihad dan mengambil hukum tidak jelas jluntrungnya karena memang tidak pernah dilakukan oleh generasi-generasi Ulama terdahulu.
.*Nyai Shuniyya Ruhama
#Nahdlatululama #alanu

Pengkafiran terhadap orang lain yang berbeda pendapat, hingga mengakibatkan penghalalan darah orang lain, ini semua bukan hal yang baru dalam masyarakat Islam. Kita semua pernah belajar tentang sejarah kelompok Khawarij. Akan tetapi ini terjadi lagi, terutama pada pemuda-pemuda yang belum memiliki keahlian khusus dalam memahami Islam. Mereka hanya melakukan perbuatan-perbuatan yang sembrono.
Pokok perbedaan antara aqidah kelompok Takfir dengan aqidah para imam muslimin tersembunyi pada pembahasan "Iman dan Islam", yang dinamakan oleh para ulama aqidah di dalam bab "Hubungan antara Perbuatan dengan Hakikat Iman". Madzhab Ahlussunnah wal Jama'ah mengenai hakikat iman adalah: 'Keyakinan yang ada dalam hati kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Akhir. Sampai hadits shahih terakhir yang mana semua menjelaskan iman sebagai keyakinan pasti yang ada dalam hati.'.
Namun di zaman ini, muncul beberapa kelompok yang mereka berlebih-lebihan (tasyaddud) dalam memahami iman. Mereka juga berusaha mati-matian melalui buku-buku, pengajaran, dan media, untuk menanamkan pemahaman kepada masyarakat bahwa madzhab yang benar adalah madzhab yang berpandangan bahwa iman adalah campuran dari keyakinan dengan perbuatan, sehingga keyakinan saja di dalam hati itu belum cukup untuk mengartikan makna iman.
Kita berusaha mengajak untuk supaya kita kembali kepada madzhab Asya'irah, Maturidiyah, dan Ahlul Hadits, dalam permasalahan ini. Sesungguhnya kita sedang mengajak kepada madzhab yang dijalani oleh jumhur umat Islam dalam sejarahnya yang sangat panjang, yaitu madzhab yang menyempitkan pemahaman takfir. Di mana takfir tidak akan dilakukan kecuali kepada orang yang jelas-jelas melakukan kekafiran, yaitu jika: mengingkari rukun dari rukun-rukun iman, atau mengingkari apa-apa yang sudah pasti diketahui dalam agama (maa 'ulima min ad-diin bi ad-dharuurah).
_____________________
Syeikh Ahmad Thayyib
*Disarikan dari tulisan beliau dalam kitab Mulakhash A'mal Muktamar al-Azhar al-'Ali li Muwajahat at-Tatharruf wa al-Irhab

Sebagian Ahli ilmu berkisah, ada seorang lelaki yang memimpikan Ahli Kubur keluar dari pemakaman dan memunguti apapun yang mereka temukan. Karena takjub, ia terus berjalan dan bertemu dengan seorang lelaki yang duduk diam tidak ikut memunguti. Dengan heran ia mendekat. Dan bertanya, “Apa yang mereka pungut?”.
“Mereka memunguti kiriman pahala dari muslimin yang membacakan Al-Qur’an dan do’a”, jawabnya.
“Tapi, mengapa engkau tidak ikut memunguti?”.
“Aku sudah tidak membutuhkannya”.
“Kenapa? Kok bisa?”.
“Dengan bacaan khatam Al-Qur’an yang senantiasa dilakukan anakku yang berjualan Zalaabiyyah/pancake di pasar Anu”.
Setelah terbangun ia langsung menuju pasar yang tertunjukkan dalam mimpinya. Dan benar, ia menemukan pemuda yang berjualan pancake dengan mulut berkemak-kemik. Ia pun bertanya, “Apa yang kau baca?”. “Aku membaca Al-Qur’an dan menghadiahkannya pada orangtuaku yang sudah meninggal” jawabnya.
Setelah lama berselang ia bermimpi tentang orang-orang yang telah meninggal lagi. Seperti mimpi yang pertama. Mereka memunguti hadiah pahala dari para muslimin yang masih hidup di dunia. Namun, ada yan terasa aneh. Karena orang yang dahulu tidak ikut keluar memunguti pahala sekarang ikut-ikutan keluar.
Setelah terbangun dari tidur, ia langsung menuju pasar tempat pemuda penjual pancake. Dan tidak ada. Setelah bertanya-tanya ternyata pemuda tersebut telah meninggal.
Wallahu a’lam
Dikutip dari Kitab I’anatut Thaalibiin, dengan sedikit “penyesuaian” bahasa.
Sumber : AlFattahpule.com

Pertama, JANGAN MALAS!
Konon salah satu penyakit yang tidak ada obatnya itu adalah penyakit malas. Banyak hal yang menyebabkan kita dilanda kemalasan. Orang yang banyak masalah biasanya menjadi malas. Begitu pula orang yang tidak punya target dalam hidup biasanya senang bermalas-malasan.
Orang yang terkena penyakit malas dia akan membuang waktunya tanpa melakukan apapun seolah waktu itu tidak berharga baginya. Orang malas cenderung menggampangkan persoalan dengan menunda-nunda mengerjakannya. Itulah sebabnya salah satu do'a yang dianjurkan Rasulullah ﷺ untuk kita baca itu agar kita berlindung kepada Allah dari rasa malas.
Kedua, JANGAN PUTUS ASA!
Biasanya orang malas akan cenderung mudah menyerah. Tidak punya spirit of fighting. Dia menganggap untuk apa berjuang toh hasilnya pasti kalah juga. Ini orang yang sudah kalah sebelum bertanding.
Alih-alih mengatur strategi dalam hidup, kita cenderung menerima keadaan dan tidak lagi mau berikhtiar. Anda boleh saja terlilit hutang, ditinggalkan kekasih, diberi cobaan penyakit, didera berbagai fitnah, namun apapun itu selama anda tidak berputus asa, anda masih bisa bangkit kembali.
...dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. (QS. 12:87)
Buat yang suka menuding orang lain kafir hanya karena berbeda pendapat, baca deh ayat di atas: jangan-jangan kita pun juga masuk kategori kafir kalau kita mudah putus asa dari rahmat Allah.
Orang yang putus asa itu seolah tidak percaya bahwa Allah tidak akan membebani seseorang di luar batas kemampuan kita; tidak yakin bahwa bahkan binatang melata pun Allah beri rejeki; tidak percaya diri bahwa sesuai janji Allah dibalik kesulitan pasti ada kemudahan.
Ketiga, JANGAN LUPA BERSYUKUR!
Mereka yang malas dan mudah putus asa biasanya jarang bersyukur. Apa yang mau disyukuri, lha wong hidup kami ancur-ancuran begini? Begitu biasanya dalih mereka.
Tapi selama nafas masih ada dan selama mentari masih bersinar hidup kita ini layak untuk kita syukuri. Tengoklah sekeliling kita: betapa banyak orang lain yang sebenarnya jauh lebih menderita ketimbang kita.
Gak percaya? Tanyakanlah pada para pemulung yang kebingungan melihat kita ngedumel karena koneksi wifi yang lemot; tengoklah mereka yang tidur beratapkan langit dan diterangi kerlip bintang sementara kita terus menggerutu listrik PLN yang byar-pet; dan dengarkan pengamen kecil yang bersenandung riang mengetuk kaca mobil kita di lampu merah sementara kita stres kehilangan proyek.
Mereka yang pandai bersyukur artinya percaya bahwa Allah akan menambah nikmat yang ada --entah kapanpun atau bagaimanapun caranya.
Mereka yang tetap bersyukur meski diuji dengan berbagai cobaan akan lebih optimis memandang masa depan --semua akan indah pada waktunya.
Mereka yang bersyukur akan semakin rajin beribadah dan bekerja karena syukur mereka telah melampaui kesabaran mereka -- tidak heran Allah kerap memuji mereka.
Mereka yang tidak pernah lupa bersyukur adalah mereka yang memulai harinya dengan energi positif; bukan dengan meratapi penderitaan, apalagi nyinyir melihat kesuksesan orang lain.
Jangan malas
Jangan mudah putus asa
Jangan lupa bersyukur
Bismillahi tawakaltu 'alallah wa la hawla wa la quwwata illa billah.
[Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia-New Zealand]

Diciptakan malaikat untuk memohonkan ampun kepada orang yang suka memandang Ulama
وقال صلى الله عليه وسلم: من نظر إلى وجه العالم نظرة ففرح بها خلق الله تعالى من تلك النظرة ملكا يستغفرله إلى يوم القيامة
Nabi Muhammad ﷺ bersabda, "Barangsiapa memandang wajah orang 'alim dengan pandangan yang menggembirakan, maka Allah Ta'ala akan menciptakan malaikat karena pandangan tersebut, yang akan memohonkan ampun untuknya hingga hari kiamat".
Hadits di atas mengajarkan kepada kita agar kita tidak benci kepada para ulama atau orang 'alim.
Sebab orang 'alim dimuliakan oleh Allah. Kita pun akan mendapatkan keutamaan yang sangat besar jika kita mencintai para ulama.
Bahkan saat kita memandang para orang 'alim saja dengan wajah mahabbah atau kebahagiaan atau kecintaan atau penuh kasih sayang, Allah akan menciptakan malaikat dari hasil kita memandang.
Dan malaikat tersebut akan memohonkan ampun untuk kita sampai nanti hari kiamat.
Referensi :
Lubabul Hadits Syeikh Jalaluddin As-Suyuti
#Nahdlatululama #alanu

Ath-Thabrani telah meriwayatkan dari Imam Abu Hanifah sebagai berikut:
جالسواالكبراء وسائلواالعلماء وخالطواالحكماء
“Hendaklah kalian berkumpul (bergaul) dengan para kubara, dan bertanyalah kepada para ulama serta dekatlah kalian dengan para hukama.”
Dalam riwayat yang lain:
جالس العلماء وصاحب الحكماء وخالط الكبراء
“Hendaklah kamu berkumpul dengan para ulama, bersahabat dengan para hukama dan dekat dengan para kubara.”
Mengenai bertanya kepada para ulama, hal ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an,
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu, jika kalian tidak mengetahui.” (QS. Al-Anbiya' [21]: 7)
Dan mengenai berkumpul bersama para ulama atau hukama, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi [18]: 28)
Ulama dikelompokkan menjadi tiga golongan, yaitu:
- Ulama, yaitu orang yang 'alim (pengetahuannya luas) tentang hukum-hukum Allah dan mereka itu berhak memberikan petunjuk (nasihat).
- Hukama adalah orang-orang yang mengetahui Dzat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dekat dengan mereka dapat membuat watak menjadi terdidik, karena dari hati mereka bersinar cahaya ma’rifat (mengenali Dzat Allah lebih dekat lagi dan rahasia-rahasia yang lain) dan dari jiwa mereka terpantul sinar keagungan Ilahi.
- Kubara, yaitu orang-orang yang dianugerahi ma’rifat terhadap hukum-hukum Allah dan terhadap Dzat Allah.
Berkumpul dengan orang yang 'alim (mengetahui tentang Allah) dapat mendidik tingkah laku menjadi lebih baik. Hal ini tidak lain karena pengaruh kebiasaan-kebiasaan mereka yang tentunya lebih baik daripada lisan. Jadi, kebiasaan seseorang yang dapat bermanfaat bagimu, tentu akan bermanfaat pula ucapannya. Begitu juga sebaliknya.
As-Sahwardi pernah meninjau ke sebagian masjid Al-Khaif di Mina seraya memandangi wajah orang-orang yang berada di dalamnya. Lalu beliau ditanya oleh seseorang (yang berada di sana), “Mengapa tuan memandang wajah-wajah orang itu?” Maka beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah telah menjadikan beberapa orang yang apabila memandang kepada orang lain maka orang yang dipandangnya itu akan merasa damai (bahagia) dan saya pun sedang mencari orang yang seperti itu.”
Referensi:
Nasha‐ihul Ibad fi Bayani al‐Faadzi al‐Munabbihaat ‘alal Isti’daadi li Yaumil Ma’adi , karangan Asy‐Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar Al‐Bantani rahimahullah)
Nasha‐ihul Ibad fi Bayani al‐Faadzi al‐Munabbihaat ‘alal Isti’daadi li Yaumil Ma’adi , karangan Asy‐Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar Al‐Bantani rahimahullah)

MENUNTUT ILMU adalah salah satu kewajiban seorang muslim, dalam menuntut imu terkadang niat seseorang terkotori dengan keinginan untuk melampaui orang lain, bangga dengan ilmu yang telah didapatkannya, dan setelah mendapatkan banyak ilmu pun tak jarang ada orang menggunakannya ilmunya untuk berdebat, atau untuk menarik perhatian orang lain.
Rasulullah ﷺ bersabda,
لاَ تَعَلَّمَوْ ا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوْا بِهِ الْعُلَمَاءَ ، وَلاَ لِتُمَارُوْا بِهِ السُّفَهَاءَ وَلاَ تَجْتَرِثُوْابِهِ فِى الْمَجَالِسِ اَوْ لِتَصْرِفُوْا وُجُوْهَ النَّاسِ إِلَيْكُمْ ، فَمَنْ فَعَلَ ذَالِكَ فَالنَّارَ فَالنَّارَ
“Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakannya terhadap para ulama dan untuk diperdebatkan di kalangan orang-orang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam mejelis (pertemuan atau rapat) dan untuk menarik perhatian orang-orang kepadamu. Barangsiapa seperti itu maka baginya neraka-neraka. (HR. At-Tirmidzi dan Ibn Majah)
🚫 Jangan menuntut ilmu untuk membanggakannya terhadap para ulama, mengapa? sebab niat tersebut adalah niat yang buruk, tak sepantasnya kita membangga-banggakan diri dengan ilmu yang telah kita dapatkan, sebagai penuntut ilmu seharusnya kita bersifat rendah hati, karena rendah hati merupakan salah satu ciri orang yang berilmu.
🚫 Jangan menuntut ilmu untuk diperdebatkan di kalangan orang-orang bodoh dan buruk perangainya, mengapa? karena berdebat merupakan perkara yang buruk, sebab ketika seseorang sedang memperdebatkan sesuatu hal dengan lawannya, maka yang terjadi justru semakin memperburuk keadaan, sehingga tak jarang yang terjadi adalah bukan kebenaran yang dicari, melainkan pembenaran.
🚫 Jangan menuntut ilmu untuk penampilan dalam majelis (pertemuan atau rapat) dan untuk menarik perhatian orang-orang kepadamu, mengapa? karena niat ini dapat mengantarkan diri kita pada sifat riya sehingga niat untuk mensedekahkan ilmunya kepada orang lain tercemari dengan keinginan-keinginan tersebut.
Seorang penuntut ilmu adalah orang-orang yang mulia, maka jangan sampai kemuliaan tersebut hilang hanya karena perkara-perkara buruk yang kita lakukan dengan ilmu yang kita miliki, seperti yang telah disebutkan dalam hadits. Jauhi perkara-perkara buruk tersebut jika kita ingin selamat dari siska neraka, sia-sialah ilmu yang telah kita didapatkan jika kita mengamalkannya dengan cara yang tak diridhai oleh-Nya.

Menuntut ilmu merupakan jenis ibadah. Namun ilmu merupakan jenis ibadah yang memiliki nilai dan kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan jenis ibadah lainnya. Sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah ﷺ,
فَضْلُ الْعِلْمِ خَ مِنْ فَضْلِ الْعِبَادَةِ وَمِ كَالُ الدِّينِ الْوَرَعُ
“Keutamaan ilmu lebih baik dari keutamaan ibadah. Dan kunci agama adalah bersikap wara’ (meninggalkan sesuatu yang dikhawatirkan memudharatkan di akhirat).” (Diriwayatkan oleh Al-Bazzar, Abu Nu’aim, Al-Hakim, dll, dari hadits Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Qais bin ’Amr al-Mula’i. Lihat Shahih Jami’ Bayan al-‘Ilmi wa Fadhlihi no. 27)
Hadits ini menjelaskan demikian mulianya ilmu dan penuntut ilmu. Ini disebabkan karena seorang yang berilmu kemudian mengajarkan ilmunya, mendakwahkannya, hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hidayah kepada orang lain dengan sebab dakwahnya, maka menjadi salah satu amal jariyah baginya.
Selama ada yang mengamalkan ilmunya tersebut, maka dia akan terus mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala walaupun dia telah meninggal. Berbeda dengan orang yang mengerjakan shalat sunnah dan semisalnya, tidak ada yang merasakan manfaatnya kecuali hanya dirinya sendiri.
Ishaq bin Manshur rahimahullah berkata, “Aku bertanya kepada al-Imam Ahmad tentang perkataannya, Mudzakarah (mengulang-ulangi) ilmu pada sebagian malam lebih aku senangi daripada menghidupkannya (dengan qiyamul lail). Ilmu apakah yang dimaksud?” Beliau menjawab, “Yaitu ilmu yang memberi manfaat kepada manusia dalam perkara agamanya.” Aku bertanya lagi, “Dalam hal (cara) berwudhu’, shalat, puasa, haji, talak, dan semisalnya?” Beliau menjawab, “Iya.” (Shahih Jami’ al- Bayan, 30/45)
Diriwayatkan pula Rabi’ bin Sulaiman Al-Muradi, Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,
طَلَبُ الْعِلْمِ أَفْضَلُ مِنَ الصَّ ةَالِ النَّافِلَةِ
“Menuntut ilmu lebih utama daripada shalat sunnah.” (Shahih Jami’ al-Bayan, 31/48)
Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Aku tidak mengetahui ada satu ibadah yang lebih afdhal daripada seseorang yang mempelajari ilmu.” (Shahih Jami’ al-Bayan, 46/78)
Wallahu a'lam

Allah menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Di setiap langit ada satu malaikat yang menjaga pintu.
Ibn Mubarak mengatakan bahwa Khalid bin Ma'dan berkata kepada sahabat Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu, "Ceritakanlah satu hadits yang kau dengar dari Rasulullah ﷺ, yang kau menghafalnya dan setiap hari kau mengingatnya lantaran saking keras, halus, dan dalamnya makna hadits tersebut. Hadits manakah yang menurut pendapatmu paling penting?"
Mu'adz menjawab, "Baiklah, akan kuceritakan." Sesaat kemudian, ia pun menangis hingga lama sekali, lalu ia bertutur, "Hmm, sungguh kangennya hati ini kepada Rasulullah ﷺ, ingin rasanya segera bersua dengan beliau.."
Ia melanjutkan, "Suatu saat aku menghadap Rasulullah ﷺ. Beliau menunggangi seekor unta dan menyuruhku naik di belakangnya, maka berangkatlah kami dengan unta tersebut. Kemudian beliau menengadahkan wajahnya ke langit, dan berdo’a, "Puji syukur kehadhirat Allah, Yang Maha Berkehendak kepada makhluq-Nya menurut kehendak-Nya."
Kemudian beliau ﷺ berkata, "Sekarang aku akan mengisahkan satu cerita kepadamu yang apabila engkau hafalkan, akan berguna bagimu, tapi kalau engkau sepelekan, engkau tidak akan mempunyai hujjah kelak di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
AMAL YANG TERTOLAK
"Hai, Mu'adz! Allah menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Pada setiap langit ada satu malaikat yang menjaga pintu, dan tiap-tiap pintu langit itu dijaga oleh malaikat penjaga pintu sesuai kadar pintu dan keagungannya.
Maka, Malaikat hafazhah (malaikat yang memelihara dan mencatat amal seseorang) naik ke langit dengan membawa amal seseorang yang cahayanya bersinar-sinar bagaikan cahaya matahari. Ia, yang menganggap amal orang tersebut banyak, memuji amal-amal orang itu. Tapi, sampai di pintu langit pertama, berkata malaikat penjaga pintu langit itu kepada Malaikat hafazhah, "Tamparkanlah amal ini ke wajah pemiliknya, aku ini penjaga tukang pengumpat, aku diperintahkan untuk tidak menerima masuk tukang mengumpat orang lain. Jangan sampai amal ini melewatiku untuk mencapai langit berikutnya."
Keesokan harinya, ada lagi Malaikat hafazhah yang naik ke langit dengan membawa amal shalih seorang lainnya yang cahayanya berkilauan. Ia juga memujinya lantaran begitu banyaknya amal tersebut. Namun malaikat di langit kedua mengatakan, "Berhentilah, dan tamparkan amal ini ke wajah pemiliknya, sebab dengan amalnya itu dia mengharap keduniaan. Allah memerintahkanku untuk menahan amal seperti ini, jangan sampai lewat hingga hari berikutnya." Maka seluruh malaikat pun melaknat orang tersebut sampai sore hari.
Kemudian ada lagi Malaikat hafazhah yang naik ke langit dengan membawa amal hamba Allah yang sangat memuaskan, dipenuhi amal sedekah, puasa, dan bermacam-macam kebaikan yang oleh Malaikat hafazhah dianggap demikian banyak dan terpuji. Namun saat sampai di langit ketiga berkata malaikat penjaga pintu langit yang ketiga, "Tamparkanlah amal ini ke wajah pemiliknya, aku malaikat penjaga orang yang sombong. Allah memerintahkanku untuk tidak menerima orang sombong masuk. Jangan sampai amal ini melewatiku untuk mencapai langit berikutnya. Salahnya sendiri ia menyombongkan dirinya di tengah-tengah orang lain.
Kemudian ada lagi Malaikat hafazhah yang naik ke langit keempat, membawa amal seseorang yang bersinar bagaikan bintang yang paling besar, suaranya bergemuruh, penuh dengan tasbih, puasa, shalat, naik haji, dan umrah. Tapi, ketika sampai di langit keempat, malaikat penjaga pintu langit keempat mengatakan kepada Malaikat hafazhah, "Berhentilah, jangan dilanjutkan. Tamparkanlah amal ini ke wajah pemiliknya, aku ini penjaga orang-orang yang suka ujub (membanggakan diri). Aku diperintahkan untuk tidak menerima masuk amal tukang ujub. Jangan sampai amal itu melewatiku untuk mencapai langit yang berikutnya, sebab ia kalau beramal selalu ujub.
Kemudian naik lagi Malaikat hafazhah ke langit kelima, membawa amal hamba yang diarak bagaikan pengantin wanita diiring kepada suaminya, amal yang begitu bagus, seperti amal jihad, ibadah haji, ibadah umrah. Cahaya amal itu bagaikan matahari. Namun, begitu sampai di langit kelima, berkata malaikat penjaga pintu langit kelima, "Aku ini penjaga sifat hasud (dengki, iri hati). Pemilik amal ini, yang amalnya sedemikian bagus, suka hasud kepada orang lain atas kenikmatan yang Allah berikan kepadanya. Sungguh ia benci kepada apa yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta'ala. Saya diperintahkan agar tidak membiarkan amal orang seperti ini untuk melewati pintuku menuju pintu selanjutnya.."
Kemudian ada lagi Malaikat hafazhah naik dengan membawa amal lain berupa wudhu yang sempurna, shalat yang banyak, puasa, haji, dan umrah. Tapi saat ia sampai di langit keenam, malaikat penjaga pintu ini mengatakan, "Aku ini malaikat penjaga rahmat. Amal yang seolah-olah bagus ini, tamparkanlah ke wajah pemiliknya. Salah sendiri ia tidak pernah mengasihi orang. Apabila ada orang lain yang mendapat musibah, ia merasa senang. Aku diperintahkan agar amal seperti ini tidak melewatiku hingga dapat sampai pada pintu berikutnya."
Kemudian ada lagi Malaikat hafazhah naik ke langit ketujuh dengan membawa amal seorang hamba berupa bermacam-macam sedekah, puasa, shalat, jihad, dan kewara'a. Suaranya pun bergemuruh bagaikan geledek. Cahayanya bagaikan malaikat. Namun tatkala sampai di langit yang ketujuh, malaikat penjaga langit ketujuh mengatakan, "Aku ini penjaga sum'at (ingin terkenal / riya). Sesungguhnya orang ini ingin dikenal dalam kumpulan, selalu ingin terlihat lebih unggul disaat berkumpul, dan ingin mendapatkan pengaruh dari para pemimpin. Allah memerintahkanku agar amalnya itu tidak sampai melewatiku. Setiap amal yang tidak bersih karena Allah, itulah yang disebut riya. Allah tak akan menerima amal orang-orang yang riya."
Kemudian ada lagi Malaikat hafazhah naik membawa amal seorang hamba : shalat, zakat, puasa, haji, umrah, akhlak yang baik, pendiam, tidak banyak bicara, dzikir kepada Allah. Amalnya itu diiringi para malaikat hingga langit ketujuh, bahkan sampai menerobos memasuki hijab-hijab dan sampailah kehadirat Allah.
Para malaikat itu berdiri dihadapan Allah. Semua menyaksikan bahwa amal ini adalah amal yang shalih dan ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Namun Allah berfirman, "Kalian adalah hafazhah, pencatat amal-amal hamba-Ku. Sedangkan Akulah yang mengintip hatinya. Amal ini tidak karena-Ku. yang dimaksud oleh si pemilik amal ini bukanlah Aku. Amal ini tidak diikhlaskan demi Aku. Aku lebih mengetahui dari kalian apa yang dimaksud olehnya dengan amalan itu. Aku laknat dia, karena menipu orang lain, dan juga menipu kalian (para Malaikat hafazhah). tapi Aku tak'kan tertipu olehnya.
Aku ini yang paling tahu akan hal-hal yang ghaib. Akulah yang melihat isi hatinya, dan tidak akan samar kepada-Ku setiap apapun yang samar. tidak akan tersembunyi bagi-Ku setiap apapun yang tersembunyi. Pengetahuan-Ku atas apa yang telah terjadi sama dengan pengetahuan-Ku akan apa yang akan terjadi. Pengetahuan-Ku atas apa yang telah lewat sama dengan pengetahuan-Ku atas apa yang akan datang. Pengetahuan-Ku kepada orang-orang terdahulu-Ku sebagaimana pengetahuan-Ku kepada orang-orang yang kemudian. Aku lebih tahu atas apapun yang tersamar daripada rahasia. Bagaimana bisa amal hamba-Ku menipu-Ku. Dia bisa menipu makhluk-makhluk yang tidak tahu, sedangkan Aku ini Yang Mengetahui hal-hal yang ghaib. Laknat-Ku tetap kepadanya.
Tujuh Malaikat hafazhah yang ada pada saat itu dan 3000 malaikat lain yang mengiringinya menimpali, "Wahai Tuhan kami, dengan demikian tetaplah laknat-Mu dan laknat kami kepadanya." Maka, semua yang ada di langit pun mengatakan, "Tetapkanlah laknat Allah dan laknat mereka yang melaknat kepadanya."
TAHANLAH MULUTMU
Mu'adz pun kemudian menangis terisak-isak dan berkata, "Ya Rasulullah, bagaimana bisa aku selamat dari apa yang baru engkau ceritakan itu?"
Rasulullah ﷺ menjawab, " Wahai Mu'adz, ikutilah nabimu dalam hal keyakinan!"
Mu'adz berkata lagi, 'Wahai Tuan, engkau adalah Rasulullah. sedangkan aku ini hanyalah si Mu'adz bin Jabal, bagaimana aku dapat selamat dan terlepas dari bahaya tersebut?"
Rasulullah ﷺ bersabda, "Seandainya dalam amalmu ada kelengahan, tahanlah mulutmu, jangan sampai menjelek-jelekkan orang lain, dan juga saudara-saudaramu sesama ulama. Apabila engkau hendak menjelek-jelekkan orang lain, ingatlah pada dirimu sendiri. Sebagaimana engkau tahu dirimu pun penuh dengan aib. Jangan membersihkan dirimu dengan menjelek-jelekkan orang lain. Jangan mengangkat dirimu sendiri engan menekan orang lain.
Jangan riya dengan amalmu agar diketahui orang lain. Janganlah termasuk golongan orang yang mementingkan dunia dengan melupakan akhirat. Kamu jangan berbisik-bisik dengan seseorang padahal di sebelahmu ada orang lain yang tidak diajak berbisik.
Jangan takabur kepada orang lain, nanti akan luput bagimu kebaikan dunia dan akhirat. Jangan berkata kasar dalam suatu majelis dengan maksud supaya orang-orang takut akan keburukan akhlaqmu itu.
Jangan mengungkit-ungkit apabila berbuat kebaikan.
Jangan merobek-robek (pribadi) orang lain dengan mulutmu, kelak kamu akan dirobek-robek oleh anjing-anjing neraka jahannam, sebagaimana firman Allah, "Wannaasyithaati nasythaa." (Di neraka itu ada anjing-anjing perobek badan-badan manusia, yang mengoyak-ngoyak daging dari tulangnya.)
Aku (Mu'adz) berkata, "Ya Rasulullah, siapa yang akan kuat menanggung penderitaan semacam ini?"
Jawab Rasulullah ﷺ, "Wahai Mu'adz, yang kuceritakan tadi itu akan mudah bagi mereka yang dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Cukup untuk mendapatkan semua itu, engkau menyayangi orang lain sebagaimana engkau menyayangi dirimu sendiri, dan membenci sesuatu terjadi kepada orang lain apa-apa yang engkau benci bila sesuatu itu terjadi kepadamu.
Apabila seperti itu, engkau akan selamat, terhindar dari penderitaan itu."
Khalid bin Ma'dan (yang meriwayatkan hadits itu dari Mu'adz radhiyallahu 'anhu) mengatakan, "Mu'adz sering membaca hadits ini sebagaimana seringnya ia membaca Al-Qur'an, mempelajari hadits ini sebagaimana ia mempelajari Al-Qur'an dalam majelisnya."
Silahkan renungkan saudaraku, apakah amalan yang kita kerjakan selama ini sudah karena Allah, apa jangan jangan karena... ???
Aswaja Channel

Rasulullah ﷺ bersabda,
المَرْأَةُ كَالضِّلَعِ، إِنْ أَقَمْتَهَا كَسَرْتَهَا، وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيهَا عِوَجٌ
(رواه بخاري و مسلم)
“Wanita itu ibarat tulang rusuk (yang bengkok). Sekiranya kamu meluruskannya pasti akan patah. Tetapi sekiranya kamu menggunakannya tetap akan ada manfaatnya dalam keadaan bengkok itu”.
حدثنا إسحاق بن نصر حدثنا حسين الجعفي عن زائدة عن ميسرة عن أبي حازم عن أبي هريرة عن النبي ﷺ قال من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يؤذي جاره واستوصوا بالنساء خيرا فإنهن خلقن من ضلع وإن أعوج شيء في الضلع أعلاه فإن ذهبت تقيمه كسرته وإن تركته لم يزل أعوج فاستوصوا بالنساء خيرا
Nabi ﷺ bersabda, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia tidak menyakiti tetangganya dan berwasiatlah kepada wanita dengan kebaikan, karena sesungguhnya dia diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian yang paling bengkok adalah tulang rusuk yang paling atas, jika kamu berusaha untuk meluruskannya, niscaya akan patah, jika kamu membiarkannya, dia akan senantiasa bengkok, maka berwasiatlah terhadap wanita dengan kebaikan." [Fath al-Baari]
\
Senada dengan apa yang diutarakan oleh Syeikh Ibn Malik dalam Alfiyah-nya:
وسَكِّنْ التالي غيرَ الفتحِ أوْ خفِّفْهُ بالفتح فكُلًّا قد رَوَوْا
Karena wanita diibaratkan pohon yang bengkok, maka ajaklah istrimu untuk hidup dalam ketentraman dengan cara meluruskan segala perilaku yang salah dan selalu memaafkan segala kesalahan serta menuntunnya ke jalan yang benar.
MAKNA PENGULANGAN KALIMAT DALAM HADITS DI ATAS
Dalam hadits di atas, ada pengulangan lafadz (2x), yaitu (واستوصوابالنساء خيرا), artinya: "berwasiatlah terhadap wanita dengan kebaikan."
Pensyarah kitab Mirqah al-Mafatih Syarh Misykah al-Mashabih (Muhammad Al-Qoori) mengutip keterangan dari Imam Nawawi rahimahullah:
(لم يزل أعوج فاستوصوا بالنساء) : كرر للمبالغة ، وإشارة إلى النتيجة
والفذلكة ، قال النووي : فيه الحث على الرفق بالنساء والإحسان إليهن والصبر
على عوج أخلاقهن واحتمال ضعف عقولهن وكراهة طلاقهن بلا سبب ، وأنه لا مطمع
في استقامتهن (متفق عليه)
Faidahnya untuk Mubalaghah
Berkata Imam An-Nawawi : Ada maksud dalam tikror/ pengulangan kalimat tersebut, diantaranya:
- Himbauan dan anjuran untuk tetap mempergauli isteri dengan lemah lembut/toleran, murah hati, kehalusan, keramahan, kelembutan, kesejukan.
- Berbuat baik kepadanya.
- Sabar atas akhlaq dan perangainya.
- Menanggung/mengerti lemah akalnya.
- Membenci untuk men'thalaq'nya, jika tanpa sebab (syar'iyyah).
- Jangan sekali kali suami mendambakan dan menginginkan ke'istiqomah'an isteri.
Wallahu a'lam.

والذين ءامنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم.... الأية ( الطور : ٢١ )
"Dan orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka"
Dzurriyah dalam terminologi para ulama itu ada dua, yaitu :
- Dzurriyyah bin nasab, artinya keturunan berdasar hubungan darah.
- Dzurriyyah bis sabab, artinya keturunan berdasar hubungan suatu sebab, misalkan ilmu, seperti hubungan guru dan murid.
Dalam menjelaskan ayat di atas, sebagian ulama menafsirkan bahwa kelak di akhirat anak atau orang tua bin nasab akan dikumpulkan dengan siapa diantara keduanya yang derajatnya lebih tinggi, jika orang tua lebih tinggi derajatnya maka anak yang beriman akan dikumpulkan bersama mereka, begitu juga sebaliknya. Dan begitu pula halnya yang akan terjadi pada orang tua dan anak bis sabab, antara guru dan murid, kiai dan santri, mereka akan dikumpulkan dengan siapa yang derajatnya lebih tinggi di antara mereka.
Semoga kelak kita dikumpulkan bersama guru-guru mulia kita. Aamiin
Disampaikan Buya di Majlis Muwasholah baina Ulamail Muslimin di Aula Al Muktamar Lirboyo
Lintang Sanga
September 05, 2018
New Google SEO
Bandung, Indonesia
SHALAT BERJAMA’AH LAH, KARENA TIDAK MUNGKIN KITA BISA SHALAT KHUSYU' SECARA SEMPURNA
Kenapa kita harus shalat berjama'ah? Karena rahasia shalat adalah khusyu'. Tapi tidak mungkin kita shalat khusyu' dalam 4 maupun 2 raka'at.
Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa, Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu suatu hari melihat salah seorang sahabat yang sedang shalat. Melihat shalatnya yang tidak bagus Sayyidina Ali radhiyallahu 'anhu berkata kepada Rasulullah ﷺ, “Wahai Rasulullah, shalat apakah itu? Kok tidak menunjukkan khusyu' sama sekali.”
Lalu Rasulullah ﷺ bersabda, “Wahai Ali, bisakah engkau shalat 2 raka'at dengan khusyuk'”
Dijawab, “Bisa ya Rasulullah.”
Kemudian Sayyidina Ali mengambil air wudhu. Selesai berwudhu, Rasulullah ﷺ menyodorkan dua surban kepada Sayyidina Ali, “Wahai Ali, ini ada 2 surban, satu dari Irak dan satunya lagi dari Yaman. Aku kasih engkau surban dari Irak jikalau engkau berhasil shalat 2 raka'at dengan khusyu'!”
Telah diketahui bahwa surban Yaman kualitasnya lebih bagus daripada surban dari Irak. Surban Yaman terkenal lebih halus dibandingkan surban Irak.
Lalu Sayyidina Ali radhiyallahu 'anhu mulai melakukan shalat. Takbir, ruku' dan sujud pada raka'at pertama shalatnya Sayyidina Ali radhiyallahu 'anhu terlihat benar-benar khusyu'. Tibalah pada raka'at kedua, terlihat dalam ruku'nya Sayyidina Ali radhiyallahu 'anhu lebih panjang dari ruku'nya raka'at pertama. Kemudian diucapkan salam pertanda shalat selesai.
Rasulullah ﷺ langsung menghampiri Sayyidina Ali radhiyallahu 'anhu seraya bertanya, “As-aluka billahi ya Ali, aku bertanya kepadamu dengan nama Allah wahai Ali. Kenapa ruku'mu pada raka'at kedua lebih panjang dari ruku' raka'at pertama?”
Jawab Sayyidina Ali radhiyallahu 'anhu, “Iya wahai Rasulullah. Saya teringat surban. Andai saja engkau memberikanku surban yang dari Yaman tentu lebih bagus dan Indah. Ini yang saya ingat waktu itu wahai Rasulullah.”
Lantas Rasulullah ﷺ bersabda, “Makanya wahai Ali, tidak mungkin manusia dapat melakukan shalat 2 raka'at dengan khusyu'. Justru itu merupakan rahmat Allah bagi ummat Nabi Muhammad ﷺ agar melakukan shalat berjama'ah.”
(Petikan Taushiyyah Al-Habib Saggaf bin Mahdi BSA di Singapura). via Ust. Sya’rony Asy-Syamfuriy
Lintang Sanga September 05, 2018 New Google SEO Bandung, Indonesia

Suatu hari, Rasulullah ﷺ bertamu ke rumah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu. Ketika sedang bercengkrama dengann Rasulullah ﷺ, tiba-tiba datang seorang Arab Badui menemui Abu Bakar dan langsung mencela Abu Bakar.
Makian, kata-kata kotor keluar dari mulut orang itu. Namun, Abu Bakar tidak menghiraukannya. Ia melanjutkan perbincangannya dengan Rasulullah ﷺ. Melihat hal ini, Rasulullah ﷺ tersenyum. Semakin marahlah orang Arab Badui tersebut.
Untuk ketiga kalinya, ia mencerca Abu Bakar dengann makian yang lebih menyakitkan dari sebelumnya... Selaku manusia biasa, akhirnya dibalaslah makian orang Arab Badui tersebut dengan makian pula. Maka terjadilah 'Perang Mulut'.
Seketika itu, Rasulullah ﷺ beranjak dari tempat duduknya. Beliau meninggalkan Abu Bakar tanpa mengucapkan salam.
Melihat hal ini, selaku tuan rumah, Abu Bakar tersadar dan menjadi bingung. Dikejarnya Rasulullah ﷺ yang sudah sampai di halaman rumahnya. Kemudian Abu Bakar berkata, "Wahai Rasulullah, janganlah Engkau biarkan aku dalam kebingungan yang sangat dalam. Jika aku berbuat kesalahan, tolong jelaskan kesalahanku."
Rasulullah ﷺ menjawab, "Sewaktu ada seorang Arab Badui datang dengan membawa kemarahan, memfitnahmu lalu mencelamu, kulihat engkau tenang, diam dan engkau tidak membalas. Aku bangga melihat engkau orang yang kuat menghadapi tantangan, menghadapi fitnah, kuat menghadapi cacian. Dan aku tersenyum karena ribuan malaikat turun di sekelilingmu mendo’akan dan memohonkan ampun untukmu, kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Begitu pun yang kedua kalinya, ketika ia mencela serta memfitnahmu dan engkau tetap membiarkannya, maka para malaikat semakin bertambah banyak jumlahnya, oleh sebab itu, aku tersenyum.
Namun, ketika ketiga kalinya ia mencelamu dan engkau menanggapinya, dan engkau membalasnya, maka seluruh malaikat pergi meninggalkanmu, hadirlah Iblis di sisimu.
Oleh karena itu, aku tidak ingin berdekatan dengan kamu, aku tidak ingin berdekatan dengan Iblis, dan aku pun enggan memberi salam kepada Iblis."
Setelah itu menangislah Abu Bakar radhiyallahu 'anhu ...
SABAR itu memang sakit dan perih. Namun Allah mengasihi dan selalu menyertai orang yang sabar. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
' يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
"Wahai orang-orang yang beriman... minta tolonglah kepada Allah dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah itu selalu menyertai orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah [2]: 153)
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar [39]: 10)
Di pintu surga malaikat menyambut orang-orang yang sabar dengan mengucapkan...
سَلَامٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّار
Salaamun 'alaikum bimaa shabartum...."
(Semoga keselamatan selalu terlimpah untukmu karena kesabaranmu...), maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. (QS. Ar-Ra'd [13]: 24 )
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang sabar... Aamiin ya Rabbal alamin.

1. Yang paling memahami Al-Qur'an adalah Nabi Muhammad ﷺ.
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي
"Katakanlah (wahai Nabi Muhammad), "Jikalau engkau mencintai Allah, maka ikutilah aku (Nabi Muhammad)." (QS. Ali Imran ayat 31).
2. Yang paling memahami Nabi Muhammad ﷺ adalah para Sahabat.
عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ
"Pegang teguhlah kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin." (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Hibban dan Al-Hakim).
3. Yang paling paham tentang Sahabat adalah Ulama Tabi'in dan Tabi'ut Tabi'in.
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
"Sebaik-baik manusia adalah masaku, kemudian masa sesudah mereka, kemudian masa sesudah mereka." (HR. Bukhari Muslim).
Imam An-Nawawi menjelaskan:
الصَّحِيحُ أَنَّ قَرْنَهُ ﷺ : الصَّحَابَةُ ، وَالثَّانِي : التَّابِعُونَ ، وَالثَّالِثُ : تَابِعُوهُمْ
"Maksud dari urutan yang disabdakan Nabi ﷺ (setelah masa Nabi) adalah, pertama masa Sahabat, kedua masa Tabi'in, dan ketiga adalah masa Tabi'ut Tabi'in". (Syarh Shahih Muslim/XVI:85).
Konklusinya, Nabi ﷺ mengharuskan kita untuk belajar ilmu agama (Islam) melalui "RANTAI/ SANAD KEILMUAN", bukan langsung ke Al-Qur'an ataupun Al-Hadits. Makanya sekelas Imam Bukhari dan Imam Muslim saja adalah ulama yang BERMADZHAB. Sekelas Imam Ath-Thabari dan Ibn Katsir pun seorang ulama yang BERMADZHAB.
Bahasa sederhananya, orang yang dianuti dalam ke-Islamannya harus jelas mata rantai/ sanad keilmuannya. Sanad ini adalah bentuk dari adab/ tatakrama. Tanpa sanad sama halnya maling/ mencuri, karena mengambil sesuatu tidak lewat pintu. Menjadi jelas bahwa "asy-Syaraf bil adab, la binnasab" (mulia itu dengan adab, bukan sekadar nasab). Dan memiliki sanad keguruan yang jelas bukanlah untuk sombong-sombongan melainkan pertanggungjawaban.
Sumber: https://plus.google.com/u/1/s/%23Nahdlatululama/posts

Pernikahan merupakan jalan bagi setiap insan dalam rangka membina hubungan rumah tangga yang sah, dan proses penyempurnaan iman seseorang dalam mencari keridhoan Tuhannya. Pernikahan juga merupakan landasan bangunan, dan kedudukannya sangat penting dalam pandangan agama Islam. Hubungan pernikahan dan keluarga memberikan pondasi bagi lahirnya generasi-generasi yang akan datang.
Pernikahan dalam Islam tidaklah semata-mata sebagai hubungan atau kontrak keperdataan biasa, akan tetapi pernikahan merupakan sunnah Rasulullah ﷺ, dan media yang paling cocok antara panduan agama Islam dengan naluriah atau kebutuhan biologis manusia dan mengandung makna dan nilai ibadah. Oleh karena itulah pernikahan yang sarat nilai dan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah ini, Islam mengaturnya dengan baik dan detail, dengan syarat dan rukun tertentu, agar tujuan disyariatkannya pernikahan untuk membina rumah tangga dan melanjutkan keturunan tercapai.
Maka bagaiamana mencari pasangan hidup merupakan salah satu komponen yang terpenting sebelum menjalankan kehidupan berumah tangga. Banyak anjuran bagi kaum lelaki untuk mencari istri yang salihah sebagai pendamping hidupnya. Dalam kitab Dhau’ al Mishbah fi Bayani Ahkam an Nikah, Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari menyebutkan bahwa dianjurkan menjauhi 6 macam perempuan untuk dijadikan sebagai istri, yaitu:
1. Al Anaanah, Wanita yang banyak keluh kesah
Jenis wanita ini adalah mereka yang selalu merasa kekurangan, merasa tak cukup, dan tak pandai bersyukur. Ia selalu tidak ridho dengan pemberian suaminya dan asyik ingin memenuhi kehendak hawa nafsunya saja. Ia sedikit-sedikit mengadu dan mengeluh.
2. Al Mannaanah, Wanita yang suka mengungkit-ungkit
Wanita tipe ini selalu mengungkit perkara yang dia tidak suka dari suaminya, ia sangat mudah membicarakan perihal pasangannya dalam hal apapun dalam rumah tangganya. Atau ia mengungkit-ungkit perbuatan dan jasanya kepada keluarga, sehingga merasa yang paling berjasa.
3. Al Hannaanah, Wanita yang suka membanding-bandingkan
Perempuan seperi ini menginginkan suami seperti lainnya. Ia selalu membandingkan suaminya dengan suami orang lain. Dia tidak ridho dan tidak menerima suaminya apa adanya. Atau dia lebih condong memilih anaknya dengan suami lain (mantannya) dari pada anaknya dengan suami sekarang, bisa juga dengan anak tirinya.
4. Al Haddaaqah, Wanita yang konsumtif (boros)
Menurut Hadratussyaikh, al Haddaaqah mempunyai dua makna. Pertama wanita yang silau harta,konsumtif, dan boros. bila menginginkan sesuatu, wanita jenis ini selalu memikirkan dunia dan harta saja. Kesenangannya adalah ketika suaminya dapat memenuhi hasrat keduniaanya dengan baik. Ia akan marah jika suaminya tidak dapat memberikan harta yang sesuai denga yang ia inginkan. Ketika dapat harta, ia suka berhambur-hamburan. Makna kedua, yaitu wanita yang suka marah-marah karena makanan dan menganggap remeh bagiannya dari bagian orang lain.
5. Al Barraaqah, Wanita yang suka bersolek
Perempuan macam ini, menghabiskan waktunya untuk mempercantik fisiknya saja dan juga menghabiskan hari-harinya untuk tidur dan bersantai. Ia pun lalai dengan ibadah-ibadahnya. (shalat jamaah, wirid, dzikir, mengurus rumah tangga, dan berkasih sayang dengan anak-anaknya).
6. Asy Syaddaaqah, Wanita yang banyak berbicara/ bergosip
Wanita jenis ini selalu menghabiskan hari-harinya dengan banyak berbicara dan menggosip. Ia suka mengomel dan menyusahkan suami dengan kata-katanya yang menyakitkan. Hari-harinya dilalui dengan hujatan dan ghibah kepada orang lain.
Begitulah tipe-tipe perempuan yang harus dijauhi untuk dijadikan istri. Karena para lelaki muslim menjauhi 6 macam atau jenis perempuan itu, maka hendaknya para muslimah pun menjauhi sifat-sifat tersebut, agar tidak menyengsarakan diri dan keluarganya. Menjadi wanita shalihah tidak mudah, tapi berusaha menuju ke arah situ, perlu diperjuangkan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bisshawab.
tebuireng.online





















