
Syeikh Ibnu Zhafar Al-Makki mengatakan, “Saya dengar bahwa Abu Yazid Thaifur bin Isa Al-Busthami rahimahullah ketika menghafal ayat berikut:
“Wahai orang yang berselimut (Muhammad)! Bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil.” (QS. Al-Muzzammil : 1-2)
Dia berkata kepada ayahnya, ‘Wahai Ayahku! Siapakah orang yang dimaksud Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat ini?’ Ayahnya menjawab, ‘Wahai anakku! Yang dimaksud ialah Nabi Muhammad ๏ทบ.’ Dia bertanya lagi, ‘Wahai Ayahku! Mengapa engkau tidak melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah ๏ทบ?’ Ayahnya menjawab, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya qiyamul lail terkhusus bagi Nabi ๏ทบ dan diwajibkan baginya tidak bagi umatnya.’ Lalu dia tidak berkomentar.”
“Ketika dia telah menghafal ayat berikut:
‘Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu.’ (QS. Al-Muzzammil : 20)
Lalu dia bertanya, ‘Wahai Ayahku! Saya mendengar bahwa segolongan orang melakukan qiyamul lain, siapakah golongan ini?’ Ayahnya menjawab, ‘Wahai anakku! Mereka adalah para sahabat – semoga ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu terlimpah kepada mereka semua.’ Dia bertanya lagi, ‘Wahai ayahku! Apa sisi baiknya meninggalkan sesuatu yang dikerjakan oleh Nabi ๏ทบ dan para sahabatnya?’ Ayahnya menjawab, ‘Kamu benar anakku.’ Maka, setelah itu ayahnya melakukan qiyamul lail dan melakukan shalat.”
“Pada suatu malam Abu Yazid bangun, ternyata ayahnya sedang melaksanakan shalat, lalu dia berkata, ‘Wahai ayahku! Ajarilah aku bagaimana cara saya bersuci dan shalat bersamamu?’ Lantas ayahnya berkata, ‘Wahai anakku! Tidurlah, karena kamu masih kecil.’ Dia berkata, ‘Wahai Ayahku! Pada hari manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatannya, saya akan berkata kepada Rabbku, ‘Sungguh, saya telah bertanya kepada ayahku tentang bagaimana cara bersuci dan shalat, tetapi ayah menolak menjelaskannya. Dia justru berkata, ‘Tidurlah! Kamu masih kecil’ Apakah ayah senang jika saya berkata demikian?’.”
Ayahnya menjawab, ‘Tidak. Wahai anakku! Demi Allah, saya tidak suka demikian.’ Lalu ayahnya mengajarinya sehingga dia melakukan shalat bersama ayahnya.”
Ayahnya menjawab, ‘Tidak. Wahai anakku! Demi Allah, saya tidak suka demikian.’ Lalu ayahnya mengajarinya sehingga dia melakukan shalat bersama ayahnya.”
๐ Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1.
Sumber: fb.com/Thariqah Alawiyah Plus

Seorang Syeikh berjalan dengan para muridnya, mereka melihat ada sebuah keluarga yang sedang bertengkar, dan saling berteriak.
Syeikh tersebut berpaling kepada muridnya dan bertanya, “Mengapa orang saling berteriak jika mereka sedang marah?”
Salah satu murid menjawab, “Karena kehilangan sabar, makanya mereka berteriak.”
“Tetapi, mengapa harus berteriak kepada orang yang tepat berada di sebelahnya? Bukankah pesan yang ia sampaikan, bisa ia ucapkan dengan cara halus?” Tanya sang Syeikh menguji murid-muridnya.
Muridnya pun saling beradu jawaban, namun tidak satu pun jawaban yang mereka sepakati.
Akhirnya sang Syeikh berkata, “Bila dua orang sedang marah, maka hati mereka saling menjauh. Untuk dapat menempuh jarak yang jauh itu, mereka harus berteriak agar perkataannya dapat terdengar. Semakin marah, maka akan semakin keras teriakannya. Karena jarak kedua hati semakin jauh.”
“Begitu juga sebaliknya, di saat kedua insan saling jatuh cinta?” lanjut sang Syeikh.
“Mereka tidak saling berteriak antara yang satu dengan yang lain. Mereka berbicara lembut karena hati mereka berdekatan. Jarak antara ke 2 hati sangat dekat.”
“Bila mereka semakin lagi saling mencintai, apa yang terjadi? Mereka tidak lagi bicara. Mereka hanya berbisik dan saling mendekat dalam kasih sayang. Pada akhirnya, mereka bahkan tidak perlu lagi berbisik. Mereka cukup hanya dengan saling memandang. Itu saja. Sedekat itulah dua insan yang saling mengasihi.”
Sang Syeikh memandangi muridnya dan mengingatkan dengan lembut, “Jika terjadi pertengkaran di antara kalian, jangan biarkan hati kalian menjauh. Jangan ucapkan perkataan yang membuat hati kian menjauh. Karena jika kita biarkan, suatu hari jaraknya tidak akan lagi bisa ditempuh…."

SAYYID ALAWI, salah satu dari pilar pengajar Masjidil Haram pernah bercerita tentang dirinya.
Aku menghafal Al-Qur'an ditangan guruku Asy-Syeikh Hassan As-Sunari. Syeikh Hasan adalah Ahlul Qur'an, tidak pernah meninggalkan sedikitpun dari waktunya, kecuali selalu membaca Al-Qur'an. Bahkan sampai dari lekatnya Al-Qur'an di dadanya, beliau tidak pernah mengkosongkan diri dari Al-Qur'an... kecuali saat di kamar mandi.
Konon beliau kalau di kamar mandi... beliau selalu menggigit lidahnya sampai sampai lidahnya berlobang terkena gigitan. Agar tidak sampai membaca Al-Qur'an di kamar mandi.
Konon beliau tegas dalam mendidik murid-muridnya. Termasuk Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki. Saat itu Sayyid Alawi berumur antara 7/ 8 tahun, sudah menghafal Al-Qur'an (adat ulama Arab) di tangan Syeikh Hasan As-Sunari.
Pernah pada suatu hari tidak bisa masuk karena sakit, sehingga beberapa hari absen. Ketika beliau masuk langsung diperintahkan untuk mengulangi murojaah hafalan. Tapi karena tidak siap, beliau salah dalam membaca.
Begitu terlihat tidak bisa membaca... langsung Syeikh Hasan As-Sunari memukul wajahnya.
Akhirnya hidungnya, wajahnya berdarah... beliau menangis pulang...
Begitu pulang dalam keadaan menangis dan berdarah, ibunya (Sayyidah Aisyah Kurdiyah) marah besar pingin melabrak Syeikh Hasan (andaikan saja beliau lelaki). Dan saat itu tepat Sayyid Abbas tidak ada di rumah.
Dan ketika Sayyid Abbas datang, sang ibu langsung lapor pada ayahnya.. Dan meminta agar Sayyid Abbas melabrak malam ini juga.
Tapi Sayyid Abbas mendengar cerita itu dengan tanpa emosi dan berkata,
ุทูุจ،، ุจูุฑุฉ،، ุทูุจ ุจูุฑุฉ. ู
ุงูู ูู ููู
ุจูุฑุฉ ..؟؟
Oh ya. Besok... Besok... bukankah esok masih ada..??
Keesokan harinya Sayyid Abbas mengajak Sayyid Alawi ke rumah Syeikh Hasan.
Pada saat itu Syeikh Hasan sedang membaca Al-Qur’an, mushaf ada di atas dua pahanya.
Begitu terlihat yang datang adalah Sayyid Abbas,, langsung Syeikh gemetar takut... (Konon Sayyid Abbas saat itu menjabat sebagai Qodhi, dan sering menjadi delegasi keluar negeri. Di samping orang 'Allamah, kaya, badan tegap dan disegani).
Sayyid Abbas membaca salam dan masuk dengan hormat,, dan langsung duduk di bawah kursi sang Syeikh. Lalu beliau menyuruh duduk Sayyid Alawi.
ุงุฌูุณ ุฃู
ุงู
ุดูุฎู ูุง ููุฏู
Setelah Sayyid Alawi duduk. Sayyid Abbas berkata,
ูุจู ุฑุฌูู ุดูุฎู
Cium kaki Syeikh mu..!
Lalu kakinya sang Syeikh dicium... lamaaaa sekali... Membuat sang Syeikh As-Sunari bergetar menangis..
Setelah itu sang Syeikh berkata,
ูู
ูุง ุนููู..!! ูุงูุชุญ ูู
ู
ููุชุญ ุงูุณูุฏ ุนููู ูู ู،، ูุจุตู ุงูุดูุฎ ูู ุงูุณูุฏ...
ููุงู : ูุงููู ู ูุฐ ุฐุง ุงูุญูู،، ุงููู ูู ููุจู ูู ููุจู
ููุชุญ ุงูุณูุฏ ุนููู ูู ู،، ูุจุตู ุงูุดูุฎ ูู ุงูุณูุฏ...
ููุงู : ูุงููู ู ูุฐ ุฐุง ุงูุญูู،، ุงููู ูู ููุจู ูู ููุจู
"Buka mulutmu Nak!" Setelah itu, beliau meludahi mulut Sayyid Alawi dan berkata, "Mulai sekarang, apa yang ada di dalam hatiku ada di dalam hatimu."
Sejak dari peristiwa itu, Sayyid Alawi bisa langsung hafal, dan umur 9 sudah hafal, dan dijadikan salah satu dari Imam Masjid Haram.
*
Yang bisa dipetik dari cerita ini adalah :
Kesadaran orangtua pada usaha guru yang berusaha untuk mengangkat derajat anaknya. Maka usaha apapun yang dilakukan sang guru tidak mungkin lepas untuk maslahat anaknya. Maka jangan sampai tidak terima dengan perlakuannya.
Tawadhu' dari orangtua kepada Murobbi. Jangan sampai masih memandang pada pangkatnya. Hendaknya orangtua bertawadhu' pada guru anaknya.
Kesabaran murid akan membawa keberhasilan.
©zawiyyahmahabbah
Lintang Sanga
September 07, 2018
New Google SEO
Bandung, Indonesia
Seorang Guru Sufi ditanya tentang dua keadaan manusia:
1. Manusia rajin sekali ibadahnya, namun sombong, angkuh dan selalu merasa suci.
2. Manusia yang sangat jarang ibadah, namun akhlaknya begitu mulia, rendah hati, santun, lembut dan cinta dengan sesama.
Lalu Sang Guru Sufi menjawab, “Keduanya baik.
Boleh jadi suatu saat si ahli ibadah yang sombong menemukan kesadaran tentang akhlaknya yang buruk dan dia bertaubat lalu ia akan menjadi pribadi yang baik lahir dan batinnya.
Dan yang kedua bisa jadi sebab kebaikan hatinya, Allah akan menurunkan hidayah lalu ia menjadi ahli ibadah yang juga memiliki kebaikan lahir dan batin.
Kemudian orang tersebut bertanya lagi, “Lalu siapa yang tidak baik kalau begitu…???”
Sang Guru Sufi menjawab, “Yang tidak baik adalah kita, orang ketiga yang selalu mampu menilai orang lain, namun lalai dari menilai diri sendiri.“

Suatu hari Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dikunjungi seorang wanita yang ingin mengadu.
“Ustadz, saya adalah seorang ibu rumahtangga yang sudah lama ditinggal mati suami.
Saya ini sangat miskin, sehingga untuk menghidupi anak-anak saya, saya merajut benang di malam hari, sementara siang hari saya gunakan untuk mengurus anak-anak saya dan menyambi sebagai buruh kasar di sela waktu yang ada.
Karena saya tak mampu membeli lampu, maka pekerjaan merajut itu saya lakukan apabila sedang terang bulan.”
Imam Ahmad rahimahullah menyimak dengan serius penuturan ibu tadi. Perasaannya miris mendengar ceritanya yang memprihatinkan.
Dia adalah seorang ulama besar yang kaya raya dan dermawan.
Sebenarnya hatinya telah tergerak untuk memberi sedekah kepada wanita itu, namun ia urungkan dahulu karena wanita itu melanjutkan pengaduannya.
“Pada suatu hari, ada rombongan pejabat negara berkemah di depan rumah saya.
Mereka menyalakan lampu yang jumlahnya amat banyak sehingga sinarnya terang benderang.
Tanpa sepengetahuan mereka, saya segera merajut benang dengan memanfaatkan cahaya lampu-lampu itu.
Tetapi setelah selesai saya sulam, saya bimbang, apakah hasilnya halal atau haram kalau saya jual?
Bolehkah saya makan dari hasil penjualan itu?
Sebab, saya melakukan pekerjaan itu dengan diterangi lampu yang minyaknya dibeli dengan uang negara, dan tentu saja itu tidak lain adalah uang rakyat.”
Imam Ahmad rahimahullah terpesona dengan kemuliaan jiwa wanita itu.
Ia begitu jujur, di tengah masyarakat yang rusak akhlaknya dan hanya memikirkan kesenangan sendiri, tanpa peduli halal haram lagi.
Padahal jelas, wanita ini begitu miskin dan papa.
Maka dengan penuh rasa ingin tahu, Imam Ahmad rahimahullah bertanya,
“Ibu, sebenarnya engkau ini siapa?”
Dengan suara serak karena penderitaannya yang berkepanjangan, wanita ini mengaku,
“Saya ini adik perempuan Basyar Al-Hafi.”
Imam Ahmad rahimahullah makin terkejut.
Basyar Al-Hafi rahimahullah adalah Gubernur yang terkenal sangat adil dan dihormati rakyatnya semasa hidupnya.
Rupanya, jabatannya yang tinggi tidak disalahgunakannya untuk kepentingan keluarga dan kerabatnya. Sampai-sampai adik kandungnya pun hidup dalam keadaan miskin.
Dengan menghela nafas berat, Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Pada masa kini, ketika orang-orang sibuk memupuk kekayaan dengan berbagai cara, bahkan dengan menggerogoti uang negara dan menipu serta membebani rakyat yang sudah miskin, ternyata masih ada wanita terhormat seperti engkau, Ibu.
Sungguh, sehelai rambutmu yang terurai dari sela-sela jilbabmu jauh lebih mulia dibanding dengan berlapis-lapis sorban yang kupakai dan berlembar-lembar jubah yang dikenakan para ulama.
Subhanallah, sungguh mulianya engkau, hasil rajutan itu engkau haramkan?
Padahal bagi kami itu tidak apa-apa, sebab yang engkau lakukan itu tidak merugikan keuangan negara…”
Kemudian Imam Ahmad rahimahullah melanjutkan,
“Ibu, izinkan aku memberi penghormatan untukmu.
Silahkan engkau meminta apa saja dariku, bahkan sebagian besar hartaku, niscaya akan kuberikan kepada wanita semulia engkau…”
Sumber: http://santri.net

Juraij adalah seorang laki-laki yang rajin beribadah. Ia membangun tempat peribadatan dan senantiasa beribadah di tempat itu. Ketika sedang melaksanakan shalat sunnah, tiba-tiba ibunya datang dan memanggilnya, "Hai Juraij!" Juraij bertanya dalam hati, "Ya Allah, manakah yang lebih aku utamakan, melanjutkan shalatku ataukah memenuhi panggilan ibuku?" Akhirnya ia pun meneruskan shalatnya itu hingga ibunya merasa kecewa dan beranjak darinya.
Keesokan harinya, ibunya datang lagi kepadanya sedangkan Juraij sedang melakukan shalat sunnah. Kemudian ibunya memanggilnya, "Hai Juraij!" Kata Juraij dalam hati, "Ya Allah, manakah yang lebih aku utamakan, memenuhi seruan ibuku ataukah shalatku?" Lalu Juraij tetap meneruskan shalatnya hingga ibunya merasa kecewa dan beranjak darinya.
Hari berikutnya, ibunya datang lagi ketika Juraij sedang melaksanakan shalat sunnah. Seperti biasa ibunya memanggil, "Hai Juraij!" Kata Juraij dalam hati, "Ya Allah, manakah yang harus aku utamakan, meneruskan shalatku ataukah memenuhi seruan ibuku?" Namun Juraij tetap meneruskan shalatnya dan mengabaikan seruan ibunya. Tentunya hal ini membuat kecewa hati ibunya. Hingga tak lama kemudian ibunya pun berdo’a kepada Allah, "Ya Allah, janganlah Engkau matikan ia sebelum ia mendapat fitnah dari perempuan pelacur!"
Kaum Bani Israil selalu memperbincangkan tentang Juraij dan ibadahnya, hingga ada seorang wanita pelacur yang sangat cantik berkata, "Jika kalian menginginkan popularitas Juraij hancur di mata masyarakat, maka aku dapat memfitnahnya demi kalian."
Maka mulailah pelacur itu menggoda dan membujuk Juraij, tetapi Juraij tidak mudah terpedaya dengan godaan pelacur tersebut. Kemudian wanita pelacur itu pergi mendatangi seorang laki-laki penggembala ternak yang kebetulan sering berteduh di tempat peribadatan Juraij. Ternyata wanita tersebut berhasil memperdayainya hingga laki-laki penggembala itu melakukan perzinaan dengannya hingga hamil.
Setelah melahirkan, wanita pelacur itu berkata kepada masyarakat sekitarnya bahwa, "Bayi ini adalah hasil perbuatan aku dengan Juraij." Mendengar pengakuan wanita itu, masyarakat pun menjadi marah dan benci kepada Juraij. Kemudian mereka mendatangi rumah ibadah Juraij dan bahkan menghancurkannya. Selain itu, mereka pun bersama-sama menghakimi Juraij tanpa bertanya terlebih dahulu kepadanya. Lalu Juraij bertanya kepada mereka, "Mengapa kalian lakukan hal ini kepadaku?" Mereka menjawab, "Kami melakukan hal ini kepadamu karena kamu telah berbuat zina dengan pelacur ini hingga ia melahirkan bayi dari hasil perbuatanmu." Juraij berseru, "Di manakah bayi itu?"
Kemudian mereka menghadirkan bayi hasil perbuatan zina itu. Lalu Juraij berkata, "Izinkah aku melakukan shalat dan memohon petunjuk kepada Allah!" Maka Juraij pun melaksanakan shalat dengan khusu'. Setelah melaksanakan shalat, Juraij mendekati bayi itu dan menyentuh perutnya dengan jari tangannya seraya bertanya, "Hai bayi kecil, siapakah sebenarnya ayahmu itu?" Ajaibnya, sang bayi langsung menjawab, "Ayah saya adalah si fulan, seorang penggembala."
Akhirnya mereka menaruh hormat kepada Juraij. Mereka menciuminya dan mengharap berkah darinya. Setelah itu mereka pun berkata, “Kami akan membangun kembali tempat ibadahmu ini dengan bahan yang terbuat dari emas.” Namun Juraij menolak dan berkata, “Tidak usah, tetapi kembalikan saja rumah ibadah seperti semula yang terbuat dari tanah liat.” Akhirnya mereka pun mulai melaksanakan pembangunan rumah ibadah itu seperti semula. (HR. Muslim)
Sobat… jangan sampai terucap dari lisan ibumu do’a melainkan kebaikan dan keridhaan untukmu. Karena Allah mendengarkan do’a seorang ibu dan mengabulkannya. Dan dekatkanlah diri kita pada sang ibu, berbaktilah, selagi masih ada waktu…

Di dalam tausiyahnya pada acara khaul Imamain Al-Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih dan Al-Habib Abdullah bin Abdul Qodir Bilfaqih di Ponpes Darul Hadits Malang, beliau Al-Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf menyampaikan sebuah kisah.
Pernah suatu ketika Habib Ahmad bin Hassan al-Atthas berkunjung ke satu daerah yang di sana kebanyakan penghuninya anti ziarah kubur, tawassul, mendo’akan orang mati dan lain-lain.
Kebetulan beliau hadir pada saat shalat Jum'at, ketika khatib melihat kehadiran seseorang yang gerak geriknya menunjukkan keluhuran, lalu khatib meminta beliau untuk menjadi imam shalat Jum'at.
Ketika beliau menjadi imam, bacaan Qur'annya begitu menyihir jama’ah hingga jama’ah pun tidak puas apabila beliau hanya menjadi imam namun beliau setelah shalat diminta lagi untuk memberikan nasehat.
Sebelum memberikan nasehat, beliau mengatakan, "Saya ingin bertanya tapi anda jangan marah..."
Mereka menjawab, "Silahkan, kami tidak akan marah..."
Beliau kemudian bertanya, "Siapa Tuhanmu?"
Suasanapun menjadi ricuh karena pertanyaan beliau. Namun mereka akhirnya menjawab, "Tuhan kami Allah."
Kemudian beliau bertanya lagi, "Siapa Nabimu?"
Mereka menjawab, "Nabi kami adalah Nabi Muhammad."
Kemudian beliau melanjutkan lagi, "Kalau begitu dari mana kamu mengenal Allah dan Nabi Muhammad?"
Mereka lalu bingung. Habib Ahmad akhirnya menjawab, "Kalian mengenal Allah dan Nabi Muhammad bukan lewat wahyu, akan tetapi lewat guru. Apa salahnya kalau kita berziarah ke makam guru kita, mendo’akannya dan menyebut namanya."
Mereka hanya terdiam tanpa bisa menjawab.
Semoga kisah singkat ini bisa mengembalikan hatinya kaum muslimin untuk mengikuti ajaran kaum shalihin.
Aamiin yaa Rabbal 'alamin.

Hatim Al-Asham ulama besar muslimin, teladan kesederhanaan dan tawakal.
Suatu hari ia berkata kepada istri dan 9 putrinya bahwa ia akan pergi untuk menuntut ilmu. Istri dan putri-putrinya keberatan. Karena siapa yang akan memberi mereka makan.
Salah satu dari putri-putri itu berusia 10 tahun dan hafal Al-Qur'an.
Dia menenangkan semua, "Biarkan beliau pergi. Beliau menyerahkan kita kepada Dzat Yang Maha Hidup, Maha Memberi rizki dan tidak pernah mati!"
Hatim pun pergi, hari itu berlalu, malam datang menjelang. Mereka mulai lapar. Tapi tidak ada makanan. Semua mulai memandang protes kepada putri 10 tahun yang telah mendorong kepergian Ayah mereka.
Putri penghafal Al-Qur'an itu kembali meyakinkan mereka, "Beliau menyerahkan kita kepada Dzat Yang Maha Hidup, Maha Memberi rizki dan tidak pernah mati!"
Dalam suasana seperti itu, pintu rumah mereka diketuk. Pintu dibuka, terlihat para penunggang kuda. Mereka bertanya, "Adakah air di rumah kalian?"
Penghuni rumah menjawab, "Ya, kami memang tidak punya apa-apa kecuali air."
Air dihidangkan. Menghilangkan dahaga mereka. Pemimpin penunggang kuda itu pun bertanya, "Rumah siapa ini?"
Penghuni rumah menjawab, "Hatim Al-Asham".
Penunggang kuda terkejut, "Hatim, ulama besar muslimin.."
Penunggang kuda itu mengeluarkan sebuah kantong berisi uang dan dilemparkan ke dalam rumah dan berkata kepada para pengikutnya, "Siapa yang mencintai saya, lakukan seperti yang saya lakukan.."
Para penunggang kuda lainnya pun melemparkan kantong-kantong mereka yang berisi uang. Sampai pintu rumah sulit ditutup, karena banyaknya kantong-kantong uang.
Mereka kemudian pergi.
Tahukah anda siapa pemimpin penunggang kuda itu...?.
Ia adalah Abu Ja'far Al-Manshur, Amirul Mukminin.
Kini giliran putri 10 tahun yang telah hafal Al-Qur'an itu memandangi ibu dan saudari-saudarinya. Dia memberikan PELAJARAN AQIDAH yang sangat mahal sambil menangis, dia berkata,
ุฅุฐุง ูุงูุช ุงููุธุฑุฉ ู
ู ุงูู
ุฎููู ุชููููุง ูููู ุจูุธุฑุฉ ุงูุฎุงูู؟
"JIKA SATU PANDANGAN MAKHLUK BISA MENCUKUPI KITA, MAKA BAGAIMANA JIKA YANG MEMANDANG KITA ADALAH AL-KHOLIQ?"
ุงูููู
ูุง ุชุฌุนู ุงูุฏููุง ุฃูุจุฑ ูู
ูุง
"Duhai Allah, jangan Kau jadikan dunia sebagai kegundahan terbesar kami ..."
Sumber: http://facebook.com/madrasribath/

Ibnu Syabramah berkata,
Saya dan Abu Hanifah pernah menemui Ja’far Ash-Shaddiq. Saya memperkenalkan Abui Hanifah kepada beliau. "Kenalkan, ini temanku. Ia adalah salah seorang fuqaha Iraq".
Mendengar itu beliau lalu berkata, "Apakah ia yang menganalogikan agama dengan nalarnya? Apakah ia Nu’man bin Tsabit?"
Saya tidak tahu siapa nama sebenarnya dari Abu Hanifah sehingga saya hanya bisa diam ketika beliau menanyakan itu. Akan tetapi Abu Hanifah kemudian berkata, "Ya, saya adalah Nu’man bin Tsabit, semoga Allah selalu memberikan yang terbaik kepada Anda".
Setelah itu beliau berkata kepada Abu Hanifah, "Bertaqwalah kepada Allah dan jangan engkau menganalogikan agama dengan nalarmu karena orang pertama yang melakukannya adalah Iblis ketika ia mengatakan aku lebih baik dari Adam. Engkau menciptakannya dari tanah, sedangkan aku Engkau cipttakan dari api. Ketahuilah Iblis telah salah dalam analoginya hingga ia akhirnya tersesat".
Abu Hanifah hanya terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Imam Ash-Shaddiq. Beliau lalu melanjutkan, "Apakah kamu pernah mencoba melakukan analogi dengan kepala dan tubuhmu?"
"Tidak," jawab Abu Hanifah.
"Kalau begitu, coba beritahukanlah kepadaku mengapa Allah menjadikan air mata itu asin sedangkan kotoran telinga pahit? Mengapa Allah menjadikan hidung berair dan menjadikan rasa tawar pada dua bibir?"
"Saya tidak tahu," jawab Abu Hanifah.
"Ketahuilah, Allah menjadikan itu semua sebagai karunia bagi hamba-hamba-Nya. Dua mata adalah lemak yang jika tidak asin maka ia akan meleleh. Sedangkan telinga sangat rawan dimasuki oleh binatang kecil sehingga jika tidak pahit akan menggigitnya. Adapun hidung adalah untuk menghirup bau yang harum sekaligus yang busuk sehingga jika di sana tidak ada air, semua itu tidak akan bisa tercium. Sedangkan dua bibir adalah untuk makan. Jika tidak tawar, maka rasa makanan tidak akan bisa tercicipi".
"Sekarang, beritahu kepadaku kalimat yang awalnya adalah syirik akan tetapi akhirnya adalah iman?"
"Saya tidak tahu," jawab Abu Hanifah.
"Kalimat tersebut adalah, ‘Laa Ilaaha Illallaah," beliau memberitahukan.
"Kalau begitu, beritahukanlah aku manakah yang lebih besar dosanya antara membunuh atau berzina?"
"Membunuh," jawab Abu Hanifah.
"Jika demikian, mengapa Allah menerima dua saksi untuk kasus pembunuhan, sedangkan dalam kasus perzinahan harus ada empat orang saksi?"
Abu Hanifah terdiam mendengar pertanyaan beliau. Karena Abu Hanifah tidak bisa menjawab, beliau melanjutkan: "Manakah ibadah yang lebih baik, shalat atau puasa?"
"Tentu saja shalat," jawab Abu Hanifah.
"Kalau begitu, mengapa Allah mewajibkan untuk mengganti puasa bagi perempuan haid, akan tetapi Allah tidak memerintahkan untuk mengganti (mengqadha) shalat?"
Kali ini pun Abu Hanifah hanya terdiam dan tidak bisa menjawab.
Setelah itu beliau melanjutkan, "Bertaqwalah kepada Allah, jangan pernah mengatakan dalam masalah agama dengan nalarmu karena kami semua di hadapan Allah nanti akan mengatakan firman Allah atau sabda Rasulullah, sedangkan kamu dan teman-temanmu akan mengatakan, menurut kami. Sungguh Allah adalah Dzat Yang Kuasa melakukan apa yang Dia kehendaki. Dengarkan jawaban dari pernyataan saya tadi. Dituntutnya lebih banyak saksi dalam kasus zina karena tujuannya untuk menutupi, sedangkan gugurnya shalat bagi orang haid karena kuantitasnya yang banyak dan berulang-ulang sehingga sangat pantas diberikan keringanan".
(Sumber: 215 Kisah yang Meneguhkan Iman, Mitra Pustaka. Terjemah An-Nawadir, karya Syeikh Syihabuddin Al-Qalyubi)










