
TIDUR adalah istirahat alami. Hal ini sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam Al-Qur’an surah An-Naba’, ayat 9, berbunyi: “Waja’alnâ naumakum subâtâ (Dan Kami menjadikan tidurmu untuk istirahat).” Dengan tidur secara teratur setiap hari, seseorang akan lebih terjaga kesehatannya. Orang yang tak pernah tidur dalam jangka waktu lama, tentu akan jatuh sakit.
Sedemikian penting aktivitas tidur bagi manusia, maka Imam Al-Ghazali memberikan nasihatnya tentang adab tidur sebagaimana termaktub dalam risalahnya berjudul Al-Adab fid Din dalam Majmu'ah Rasail Al-Imam Al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 434) sebagai berikut:
آداب النوم: يتطهر قبل النوم، و ينام على يمينه، ويذكرالله عز وجل حتى يأخذه النوم، ويدعو إذا استيقظ، ويحمد الله تعالى
“Adab tidur, yakni: bersuci sebelum tidur, tidur di atas sisi kanan, berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla hingga tidur, berdo'a ketika bangun dan memuji Allah Ta'ala.”
Dari kutipan di atas dapat diuraikan keempat adab tidur sebagai berikut:
Pertama, bersuci sebelum tidur. Siapa pun yang hendak tidur sebaiknya memastikan diri bahwa anggota badannya telah bersih baik dari kotoran-kotoran seperti tanah atau lumpur, sisa makanan dan sebagainya. Hal ini sangat baik apabila dilakukan dengan cara berwudhu sekaligus untuk bersuci dari hadats kecil. Selain itu, dengan berwudhu seseorang bisa tidur dengan kualitas lebih baik, seperti tidak merasa gatal-gatal pada anggota badan dan terhindar dari mimpi-mimpi buruk sehingga bisa istirahat dengan sempurna.
Kedua, tidur di atas sisi kanan. Maksudnya adalah sebaiknya seseorang berbaring cenderung miring ke kanan. Hal ini juga sesuai dengan anjuran para dokter supaya tidur miring sehingga gravitasi bisa terjaga untuk menjaga isi perut. Posisi miring menghadap ke kanan bisa melindungi jantung dari tertindih atau tertekan organ lainnya, dan juga akan membantu mengistirahatkan otak kiri setelah seharian berpikir keras. Namun bagi yang memiliki gangguan asam lambung yang parah posisi miring ke kiri dimungkinkan lebih baik.
Ketiga, berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla hingga tidur. Dzikir merupakan obat penenang hati atau suasana batin sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam Al-Qur'an, surah Ar-Ra’du, ayat 28: “Alâ bidzikrillâhi tathmainnul qulûb (hanya dengan mengingati Allah, hati menjadi tenteram)."
Untuk itu, siapa pun sebaiknya berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala hingga ia tidur. Bacaan dzikir bisa berupa Ayat Kursi, Surah Al-Ikhlas, Surah Al-Falaq, Surah An-Nas dan Surah Al-Mulk (lihat Bidayatul Hidsyah karya Imam Al-Ghazali, dalam Majmu'ah Rasail Al-Imam Al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 406). Jika tidurnya berlanjut dan tak pernah bangun karena ternyata meninggal dunia, maka insya Allah ia tergolong husnul khatimah. Adapun contoh doa pendek yang umum dibaca sebelum tidur di kalangan awam dengan menukil dari hadits Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan Muslim (Shahih Muslim, 6887) adalah sebagai berikut:
اَللّهُمَّ! بِاسْمِكَ أَحْيَا وَبِاسْمِكَ أَمُوْتُ
Allâhumma bismika ahyâ wa bismika amût.
“Ya Allah! Dengan nama-Mu, aku hidup dan dengan nama-Mu pula aku mati.”
Adapun contoh do'a agak panjang yang dinukil sebagian dari do'a panjang sebagaimana direkomendasikan oleh Imam Al-Ghazali dalam risalahnya berjudul Bidayatul Hidayah adalah sebagai berikut,
بِاسْمِكَ رَبِّى وَضَعْتُ جَنْبِى وَبِاسْمِكَ اَرْفَعُهُ فَاغْفِرْلِى ذَنْبِى اللّهُمَّ قِنِى عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ اَللّهُمَّ بِاسْمِكَ اَحْيَا وَأَمُوْتُ أَعُوْذُبِكَ اَللّهُمَّ مِنْ شَرِّ كُلِّ ذِى شَرٍّ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ دَابَّةٍ اَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا اِنَّ رَبِّى عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ
Bismika rabbî wadha’tu janbî wabismika arfa’uhu faghfirlî dzanbî. Allahuma qinî ‘adzâbaka yauma tab’atsu ‘ibâdaka. Allâhumma bismika ahyâ wa amût, Allâhumma innî a‘udzubika min-syarri kulli dzî syarrin. Wa min syarri kulli dâbbatin anta âkhidzun binâshiyatihâ, inna rabbî ’alâ shirâthin mustaqîm.
“Dengan nama-Mu wahai Tuhanku, kuletakkan rusukku dan dengan nama-Mu pula kuangkat tulang itu serta ampunilah dosa-dosaku. Ya Allah semoga Engkau menjagaku dari adzab-Mu pada hari dimana Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu. Ya Allah, dengan nama-Mu aku hidup dan mati. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung pada-Mu dari keburukan segala sesuatu yang memiliki keburukan serta dari kejahatan setiap yang melata. Engkaulah yang menggenggam ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku berada di jalan yang lurus.”
Keempat, berdo'a ketika bangun dan memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala. Begitu kita bangun tidur, hal pertama yang kita lakukan adalah berdo'a. Dalam posisi duduk tenang sambil memulihkan kesadaran dan keseimbangan badan, kita dapat mengucapkan do'a bangun tidur yang diawali dengan bacaan hamdalah untuk memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala. Do'a itu sebagaimana dinukil dari hadits Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan Bukhari (Shahih Bukhari, 6314) adalah sebagai berikut:
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَمَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
Alhamdulillâhil ladzî ahyânâ ba’da mâ amâtanâ wa iliahin nusyûr.
“Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami kembali setelah mematikan kami dan kepada Allah kami akan dibangkitkan.”
Keempat adab tersebut hendaknya dapat dilakukan secara utuh setiap kali akan tidur dan ketika bangun. Jika hari diawali dengan hal-hal positif, maka hal-hal positif lainnya akan mengikuti sepanjang hari itu hingga saatnya tidur kembali. Demikianlah Imam Al-Ghazali memberikan nasihatnya untuk dapat kita amalkan dengan sebaik-baiknya.
Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.
Sumber: http://www.nu.or.id/post/read/85187/empat-adab-tidur-menurut-imam-al-ghazali

Rasulullah ﷺ bersabda,
لاَ يَشْرَبَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ قَائِمًا
.
“Sungguh janganlah salah seorang dari kamu minum sambil berdiri.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim (6/110-111) dari Umar bin Hamzah: “Telah bercerita kepadaku Abu Ghithan Murri, bahwa sesungguhnya dia mendengar Abu Hurairah berkata: “Telah bersabda Rasulullah ﷺ …, kemudian dia menyebutkan hadits itu dan menambahkan: “Barangsiapa yang lupa maka hendaklah memuntahkannya.”
Juga diriwayatkan oleh Abu Ziyad Ath-Thihani, dia berkata: “Aku mendengar Abu Hurairah menuturkan,
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسّلَّمَ أَنَّهُ رَأٰٰى رَجُلاً يَشْرَبُ قَا ءِمًا فَقَالَ لَهُ : قِهْ ، قَالَ : لِمَهْ ؟ قَالَ : أَيَسُرُّكَ أَنْ يَشْرَبَ مَعَكَ الْهِرُّ ؟ قَالَ : لاَ ، قَالَ : فَاِنَّهُ قَدْ شَرَبَ مَعَكَ مَنْ هُوَ شَرُّ مِنْهُ ! أَالشَّيْطَانُ
.
Dari Nabi ﷺ, bahwa sesungguhnya beliau melihat seorang lelaki minum dengan berdiri. Kemudian beliau bersabda kepadanya, “Muntahkanlah!” Orang itu bertanya: “Mengapa?”Beliau bersabda: “Apakah kamu suka jika minum bersama dengan kucing?” Orang lelaki itu menjawab: “Tidak.” Dia bersabda lagi: “Sesungguhnya telah minum bersamamu sesuatu yang lebih buruk daripada itu, yaitu setan.”
(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (7990), Ad-Darimi (2/121), Ath-Thahawi dalam Musykilul-Atsar (3/19) dari Syu’bah dari Abu Ziyad)
Hadits ini juga muncul dengan lafazh lain, yaitu:
لَوْ يَعْلَمَ الَّذِي يَشْرَبُ وَهَوَ قَائِمٌ مَا فِي بَطْنِهِ لاَسْتَقَاءَ
.
“Jikalau orang yang minum sambil berdiri itu mengetahui apa yang ada dalam perutnya, tentu dia akan memuntahkannya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad (7790 dan 7796) dari Az-Zuhri dari seorang lelaki dari A’masy, dari Abi Shalih, yang ini juga dari Abu Hurairah yang menuturkan: “Telah bersabda Rasulullah ﷺ …” Kemudian Ath-Thahawi juga meriwayatkannya dalam Musykilul Atsar (3/18) dari Al-A’masy dengan menambahkan: “Sampai tibalah Ali bin Abi Thalib, lalu dia berdiri kemudian minum sambil berdiri.”
Kejelasan larangan dalam hadits-hadits tersebut menunjukkan diharamkannya minum dengan berdiri tanpa udzur. Namun banyak pula hadits lain yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ juga pernah minum sambil berdiri. Karena itu akibatnya para alim ulama berbeda pendapat dalam menyatukan hadits-hadits itu. Ulama kebanyakan berpendapat bahwa larangan itu li at-tanzih (makruh). Sedangkan perintah untuk memuntahkan adalah sunnah. Sementara itu Ibnu Hazim berbeda dengan mereka. Dia berpendapat, bahwa larangan itu menunjukkan haram. Agaknya pendapat inilah yang lebih mendekati kebenaran. Karena bila untuk sekedar ‘tanzih” tidak perlu menggunakan kata “zijirun” (tercela), dan tidak akan diperintahkan untuk memuntahkan, sebab perintah memuntahkan di situ adalah sesuatu yang sulit bagi seseorang untuk melakukannya, sehingga tidak mungkin syari'at membebankan sesuatu yang seberat itu hanya untuk perkara yang sekedar sunnah. Demikian pula hadits itu juga berbunyi “Sesungguhnya setan telah minum bersamamu.” Ini adalah suatu larangan atau peringatan keras agar tidak minum dengan berdiri. Jadi tidak tepat jika peringatan itu hanya diberikan untuk perkara meninggalkan sunnah saja.
Sedangkan hadits-hadits yang menerangkan minum dengan berdiri adalah mungkin karena ada udzur seperti tempat yang sempit atau karena tempat airnya tergantung. Karena memang ada hadits-hadits yang menunjukkan yang demikian itu.
Wallahu a’lam

Ketinggian budi pekerti dan akhlaq Rasulullah ﷺ, diantaranya tidak mencela dan mengomentari makanan.
Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan,
مَا عَابَ النَّبِيُّ ﷺ طَعَامًا قَطٌّ إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِلاَّ تَرَكَهُ
“Nabi ﷺ tidak pernah mencela makanan sama sekali. Jika beliau selera maka beliau memakannya, dan jika tidak selera maka beliau tinggalkan.” (HR. Ahmad 9755, Bukhari 3563 dan Muslim 5504).
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan hadits ini,
هَذَا مِنْ آدَابِ الطَّعَامِ الْمُتَأَكِّدَةِ وَعَيْبُ الطَعَامِ كَقَوْلِهِ : مَالِحٌ، قَلِيْلُ الْمِلْحِ، حَامِضٌ، رَقِيْقٌ، غَلِيْظٌ، غَيْرُ نَاضِجٍ، وَنَحْوُذَلِك
“Hal ini (tidak mencela makanan) termasuk adab makan yang ditekankan. Dan mencela makanan yaitu seperti ia berkata, “Ini keasinan”, “Kurang asin”, “Kecut”, “Terlalu lembut”, “Masih kasar”, “Belum masak”, dan yang semisalnya.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 14/26).

Makan dan minum adalah hal yang setiap orang lakukan setiap hari, sehingga kebanyakan orang menyepelekan hal ini. Walaupun makan dan minum merupakan hal kecil, akan tetapi Islam tetap mengaturnya. Dengan melakukan makan dan minum sesuai dengan adab atau tata cara yang diatur dalam Islam, maka itu juga mencerminkan seseorang memiliki akhlaq yang baik.
Berikut adalah tata cara makan dan minum yang diterangkan dalam kitab Risalatul Mu'awwanah karya Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad shahibur ratib yang juga pengarang Ratibul Haddad dan Wirdul Lathif.
وإذا أكلت أو شربت فابدأ باسم الله واختم بالحمد لله، وكل واشرب بيمينك، وإذا قدم إليك طعام فقل: اللهم بارك لنا فيما رزقتنا وأطعمنا خيراً منه إلا أن يكون لبناً فقل: وزدنا منه فإنه لا شيء خير منه كما ورد
Bacalah basmalah sebelum makan atau minum, serta alhamdulillah seteleh melakukan keduanya.
Makan dan minumlah dengan tangan kanan. Jika makanan atau minuman sudah dihidangkan di hadapanmu, maka bacalah,
اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَافِيْمَارَزَقْتَنَاوَأَطْعِمْنَاخَيْرًامِنْهُ
“Ya Allah, berilah keberkahan kepada kami di dalam rezeki kami dan anugerahilah makanan kepada kami yang lebih baik darinya.”
Adab Makan
وعليك - بغسل اليدين قبل الطعام وبعده
وبتصغير اللقمة، وتدقيق المضغ، ولا تمدد يدك إلى الطعام حتى تبتلع ما في فمك، وكلْ من نواحي القصعة ولا تأكل من وسطها فإن البركة تنزل عليه، وإذا سقطت لقمتك فأمط ما بها من أذى ثم كلها ولا تدعها للشيطان، والعَق أصابعك والقصعة بعد الفراغ، وكل بالسبابة والوسطى والإبهام، وإن احتجت إلى الاستعانة بالبقية في نحو الأرز فلا بأس
وإذا أكلت مع غيرك فكل مما يليك إلا الفاكهة، ولا تكثر النظر إلى الحاضرين في حال أكلهم، وتحدث معهم بما يناسب الحال، ولا تتكلم والطعام في فمك، وإن غلبك بصاق أو مخاط فالو برأسك عنهم أو قم إلى موضع آخر
Hendaklah engkau selalu mencuci kedua tanganmu sebelum dan sesudah makan. Kecilkan suapanmu, haluskan kunyahanmu dan jangan kau ambil makanan lain sebelum makanan yang ada di dalam mulutmu tertelan, mulailah makan dari pinggir dan jangan dari tengah, karena keberhahan turun di tengah-tengah.
Jika sebagian dari makananmu terjatuh, ambil dan cucilah. Dan jangan kau sisakan makanan itu untuk setan. Selesai makan, jilati jari dan tempat makanmu.
Makanlah dengan menggunakan jari tengah, ibu jari dan jari telunjuk. Tetapi jika tak mampu, maka gunakan semua jari. Contohnya pada saat makan nasi. Pada saat engkau makan dengan orang lain, makanlah apa yang ada di dekatmu saja, kecuali buah-buahan. Jangan sering memperhatikan tata cara makan orang-orang si sekitarmu atau berbicara dengan mereka kecuali pembicaraan yang pantas dibicarakan pada saat makan, dan jangan pula berbicara saat makanan masih ada di dalam mulut. Jika keadaan memaksamu untuk meludah atau mengeluarkan ingus, palingkan wajahmu dari mereka atau berdirilah agak menjauh atau berpindahlah ke tempat lain.
وإذا أكلت عند قوم فاثن عليهم وادع لهم بخير وقل بعد الفراغ من الأكل: الحمد لله. اللهم كما أطعمتني طيباً فاستعملني صالحاً، الحمد لله الذي أطعمني هذا الطعام ورزقنيه من غير حول مني ولا قوة. فمن قال ذلك غفر له ما تقدم من ذنبه وما تأخر
ولا تتكلف الإدام لكل طعام، ولا تعب طعاماً قط وإن كان رديئاَ
Ketika engkau makan di tempat orang lain, pujilah dan doakan mereka serta ucapkan terima kasih atas kebaikan mereka.
Sesudah makan, bacalah do'a,
اَلْحَمْدُلِلَّهِ اَللَّهُمَّ كَمَاأَطْعَمْتَنِىْ طَيِّبًافَاسْتَعْمِلْنِىْ صَالِحًا, اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِىْ أَطْعَمَنِىْ هَذَاالطَّعَامَ وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِحَوْلٍ مِنِّىْ وَلَا قُوَّةٍ
“Segala puji bagi Allah. Ya Allah, sebagaimana Engkau memberi aku makanan dengan makanan yang baik, maka jadikanlah aku orang yang shaleh. Segala puji bagi Alalh, Dzat yang telah memberi makan dan memberi rezeki padaku tanpa upaya dan kekuatan dariku.”
Barangsiapa membaca do'a tadi, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan akan datang.
ولا تجعل همتك أكل الطيبات وتناول الشهوات فتكون من الذين قال فيهم رسول الله ﷺ: شرار أمتي الذين غذوا بالنعيم ونبتت عليه أجسادهم وإنما همتهم ألوان الطعام وألوان الثياب ويتشدقون في الكلام
Jangan kau jadikan makanan-makanan yang lezat sebagai tujuan untuk mengumbar syahwat. Bila tujuanmu seperti itu, berarti engkau termasuk golongan yang disebutkan dalam hadits Nabi ﷺ,
شِرَارُ أُمَّتِى الَّذِيْنَ غُذُوْابِالنَّعِيْمِ وَنَبَتَتْ عَلَيْهِ أَجْسَادُهُمْ وَإِنَّمَاهِمَّتُهُمْ أَلْوَانُ الطَّعَامِ وَأَلْوَانُ الثِّيَابِ وَيَتَشَدَّقُوْنَ فِىْ الْكَلَامِ
“Sejelek-jelek umatku adalah mereka yang memakan makanan yang lezat-lezat (saja) dan tubuh mereka tambah (gemuk). Dan cita-cita hidup mereka hanyalah aneka makanan, aneka pakaian, dan senang berbicara panjang lebar (yang tidak ada manfaatnya).”
وقال علي، كرم الله وجهه: من كانت همته ما يدخل بطنه كانت قيمته ما يخرج منها
واجتهد أن لا تدخل بطنك إلى حلالاً؛ فإن من أكل الحلال أربعين يوماً استنار قلبه، وجرت ينابيع الحكمة على لسانه، وأكرمه الله بالزهد في الدنيا، وصفت سريرته، وحسنت معاملته مع ربه، ومن أكل الحرام والشبهات كان على الضد من ذلك كله
Berkata Ali bin Abu Thalib karramallahu wajhah, ”Siapa yang tujuan hidupmu hanya memasukkan sesuatu ke perutnya, maka harga diri dan kehormatannya seperti barang yang keluar daripadanya (perutnya).”
Berusahalah dengan sungguh-sungguh untuk tidak memasukkan sesuatu ke perutmu, kecuali yang halal. Barangsiapa makan barang halal selama 40 hari berturut-turut, hatinya menjadi bersinar, dan lisannya keluar kata-kata hikmah, Allah memberi kemuliaan kepadanya dengan zuhud terhadap dunia dan hatinya senantiasa berhubungan dengan Allah secara harmonis. Sebaliknya, orang yang selalu makan barang haram atau syubhat, hatinya menjadi gelap gulita, perkataannya tak berfaedah dan hubungannya dengan Allah selalu mengalami hambatan.
Jangan Makan Sampai Kekenyangan
وإياك - والاتساع في الأكل وكثرة الشبع فإنه من الحلال مبدأ كل شر. ومن آفاته قسوة القلب وفساد الفطنة وتشويش الفكرة والكسل عن العبادة إلى غير ذلك من الآفات
Hati-hati dan janganlah engkau makan hingga kekenyangan meskipun makanan itu berasal dari suatu yang halal, karena kekenyangan adalah penyebab awal kejahatan.
Makan sampai kekenyangan juga menimbulkan kerasnya hati, rusaknya kecerdasan, kacaunya pikiran, serta malas dalam beribadah dan lain sebagainya daripada kejahatn-kejahatan.
وسبيل الاقتصاد في الأكل أن تمسك عن الطعام وأنت تشتهيه ولا تتناوله حتى تشتهيه بشهوة صادقة
وعلامة صدق الشهوة أن تشتهي كل طعام
Makan dengan sederhana itu ialah berhenti makan ketika masih menginginkannya dan tidak makan kecuali nafsu makan yang benar. Nafsu makan yang benar itu tandanya bila engkau menginginkan makanan apa saja.
Adab Minum
وإذا شربت الماء فمصّه ولا تعبّه، واشرب في ثلاثة أنفاس، ولا تتنفس في الإناء ولا تشرب من ثلمته(1)، ولا تشرب وأنت قائم ولا من فم السقاء فإن لم تجد إناء فاشرب على يدك وقل بعد الشرب: الحمد لله الذي جعله عذباً فراتاً برحمته ولم يجعله ملحاً أجاجاً بذنوبنا
Bila engkau minum, hisaplah dan jangan minum sekali teguk, minumlah dengan tiga kali nafas, jangan bernafas pada tempat yang retak, hindari minum sambil berdiri dan minum dari mulut timba. Jika tidak ada tempat yang patut untuk minum, seperti cangkir, gelas dan lain-lain, maka gunakanlah kedua tanganmu sebagai tempat minum.
Setelah minum, bacalah do'a,
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِىْ جَعَلَهُ عَذْبًافُرَاتًابِرَحْمَتِهِ وَلَمْ يَجْعَلْهُ مِلْحًاأُجَاجًابِذُنُوْبِنَا
“Segala puji bagi Allah, yang telah menjadikan air ini tawar dengan rahmat-Nya dan tidak menjadikan air ini asin dan payau lantaran dosa-dosa kami.”
Referensi:
Kitab Risalatul Mu'awwanah karya Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad
Semoga bermanfaat

Berbakti kepada kedua orangtua adalah persoalan utama, dalm jejeran hukum-hukum yang terkait dengan berbuat baik terhadap sesama manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah cukup menegaskan hal itu dalam banyak firman-Nya, demikian juga Rasulullah ﷺ dalam banyak sabdanya. Di antara tumpukan bukti tersebut adalah sebagai berikut:
1. Allah Subhanahu wa Ta’ala menggandengkan antara perintah untuk beribadah kepada-Nya, dengan perintah berbuat baik kepada orangtua:
وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sakali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkatan "AH" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS. Al-Isra' [17]: 23)
2. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan setiap muslim untuk berbuat baik kepada orangtuanya, meskipun mereka kafir
وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا
"Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik” (QS. Luqman [31]: 15)
Imam al-Qurthubi menjelaskan, “Ayat di atas menunjukkan diharuskannya memelihara hubungan baik dengan orangtua, meskipun dia kafir. Yakni dengan memberikan apa yang mereka butuhkan. Bila mereka tidak membutuhkan harta, bisa dengan cara mengajak mereka masuk Islam..”
3. Berbakti kepada kedua orangtua adalah jihad.
Abdullah bin Amru bin Ash meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki meminta ijin berjihad kepada Rasulullah ﷺ Beliau bertanya, “Apakah kedua orangtuamu masih hidup?” Lelaki itu menjawab, “Masih.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, berjihadlah dengan berbuat baik terhadap keduanya.” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)
4. Taat kepada orangtua adalah salah satu penyebab masuk Surga.
Rasulullah ﷺ bersabda, "Sungguh kasihan, sungguh kasihan, sungguh kasihan.” Salah seorang sahabat bertanya, “Siapa yang kasihan, wahai Rasulullah?” Beliau ﷺ menjawab, “Orang yang sempat berjumpa dengan orangtuanya, kedua-duanya, atau salah seorang di antara keduanya, saat umur mereka sudah menua, namun tidak bisa membuatnya masuk Surga.” (Riwayat Muslim)
Beliau ﷺ juga pernah bersabda, "Orangtua adalah ‘pintu pertengahan’ menuju Surga. Bila engkau mau, silakan engkau pelihara. Bila tidak mau, silakan untuk tidak memperdulikannya.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan beliau berkomentar, “Hadits ini shahih.”)
Menurut para ulama, arti ‘pintu pertengahan’, yakni pintu terbaik.
5. Keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, berada di balik keridhaan orangtua.
Keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala bergantung pada keridhaan kedua orangtua. Kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, bergantung pada kemurkaan kedua orangtua.”
6. Berbakti kepada kedua orangtua membantu meraih pengampunan dosa.
Ada seorang lelaki datang menemui Rasulullah ﷺ sambil mengadu, “Wahai Rasulullah! Aku telah melakukan sebuah perbuatan dosa.” Beliau ﷺ bertanya, “Engkau masih mempunyai seorang ibu?” Lelaki itu menjawab, “Tidak.” “Bibi?” Tanya Rasulullah ﷺ lagi. “Masih.” Jawabnya. Rasulullah ﷺ bersabda, “Kalau begitu, berbuat baiklah kepadanya.”
Dalam pengertian yang ‘lebih kuat’, riwayat ini menunjukkan bahwa berbuat baik kepada kedua orangtua, terutama kepada ibu, dapat membantu proses taubat dan pengampunan dosa. Mengingat, bakti kepada orangtua adalah amal ibadah yang paling utama.
Perlu ditegaskan kembali, bahwa birrul waalidain (berbakti kepada kedua orangtua), lebih dari sekadar berbuat ihsan (baik) kepada keduanya. Namun birrul walidain memiliki nilai-nilai tambah yang semakin meningkatkan makna kebaikan tersebut, sehingga menjadi sebuah bakti. Dan sekali lagi, bakti itu sendiripun bukanlah balasan yang setara untuk dapat mengimbangi kebaikan orangtua. Namun setidaknya, sudah dapat menggolongkan pelakunya sebagai orang yang bersyukur.
Imam An-Nawawi menjelaskan, “Arti birrul waalidain yaitu berbuat baik terhadap kedua orangtua, bersikap baik kepada keduanya, melakukan berbagai hal yang dapat membuat mereka bergembira, serta berbuat baik kepada teman-teman mereka.”
Al-Imam Adz-Dzahabi menjelaskan bahwa birrul waalidain atau bakti kepada orangtua, hanya dapat direalisasikan dengan memenuhi tiga bentuk kewajiban:
- Menaati segala perintah orangtua, kecuali dalam maksiat.
- Menjaga amanah harta yang dititipkan orangtua, atau diberikan oleh orangtua.
- Membantu atau menolong orangtua, bila mereka membutuhkan.
Wallahu a'lam bish shawab

Seorang muslim hendaknya berhati-hati dalam berbicara dan menyampaikan suatu hal, apalagi sesuatu yang belum jelas asal usulnya dan yang berbau fitnah.
Rasulullah ﷺ bersabda,
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
"Cukuplah seseorang dianggap pendusta ketika dia menceritakan (menyebarkan) setiap apa saja yang ia dengar." (Mukaqaddimah Shahih Muslim. Bab: Larangan menyebarkan setiap apa yang ia dengar)
Imam An-Nawawi dalam kitab Syarh Shahih Muslim berkata,
وَأَمَّا مَعْنَى الْحَدِيث وَالْآثَار الَّتِي فِي الْبَاب فَفِيهَا الزَّجْر عَنْ التَّحْدِيث بِكُلِّ مَا سَمِعَ الْإِنْسَان فَإِنَّهُ يَسْمَع فِي الْعَادَة الصِّدْق وَالْكَذِب ، فَإِذَا حَدَّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ فَقَدْ كَذَبَ لِإِخْبَارِهِ بِمَا لَمْ يَكُنْ
Makna hadits dan atsar yang ada dalam bab ini adalah peringatan agar tidak menyampaikan apa saja yang didengarnya. Kerana biasanya berita itu ada yang benar dan ada yang dusta. Maka apabila ia membicarakan/menyebarkan semua yang didengarnya maka sungguh dia telah dusta karena menyampaikan apa yang sebenarnya tidak ada.
Hadits di atas sebetulnya sebagai penguat dari firman Allah Subhanahu wa Ta'ala yang berbunyi :
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٍ۬ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَـٰلَةٍ۬ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَـٰدِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat [49]: 6)
Wallahu a'lam

Sesungguhnya akhlak mulia merupakan sifat yang dimiliki oleh para nabi, shiddiqin, dan shalihin. Dengan akhlak mulia tersebut, mereka mendapatkan derajat yang tinggi, dan kedudukan terhormat.
Akhlak yang baik akan membuahkan kecintaan dan kasih sayang. Bahkan bisa menutup kekurangan dan kesalahan. Sebaliknya, akhlak buruk akan menumbuhkan kebencian, permusuhan dan dengki. Dan bisa juga mengubur kelebihan dan kebaikan.
Nabi ﷺ menyuruh untuk berakhlak baik dan selalu menjaganya. Bahkan beliau menempatkannya sejajar dengan takwa sebagai sebab yang paling banyak menghantarkan kepada surga. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah pernah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga. Beliau ﷺ menjawab, "Takwa kepada Allah dan akhlak baik." (HR. Tirmidzi dan Hakim)
Akhlak baik itu seperti: menampakkan wajah berseri, memberikan kebaikan kepada orang, berkata yang baik, menghindarkan sesuatu yang bisa menyakiti orang, menahan amarah, tidak berbuat yang membahayakan orang lain, dan semisalnya.
Nabi Muhammad ﷺ telah mewasiatkan kepada Abu Hurairah satu wasiat yang agung dalam sabdanya, "Wahai Abu Hurairah! Hendaknya engkau berakhlak yang baik." Lalu Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bertanya, "Apa itu husnul khuluq (akhlak baik), wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Engkau menyambung silaturahim orang yang memutuskannya darimu, memaafkan orang yang mendzalimimu, dan memberi orang yang tidak mau memberi kepadamu." (HR. Al-Baihaqi)
Perhatikan keterangan hadits Nabi tentang besarnya pahala berakhlak mulia. Beliau ﷺ bersabda, "Sesungguhnya seseorang mendapatkan derajat orang berpuasa dan shalat malam karena akhlaknya yang mulia." (HR. Ahmad)
Diriwayatkan dari Abu Darda radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda,
مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ
"Tidak ada sesuatu yang dapat memperberat timbangan (kebaikan) seorang mukmin pada hari kiamat selain kebaikan akhlaknya." (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud)
Bahkan beliau ﷺ menjanjikan bagi orang yang berakhlak mulia mendapatkan tempat yang lebih dekat dengannya di hari kiamat di dalam surga.
إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبُكُمْ مِنِّيْ مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَسِانُكُمِ أَخْلَاقًا
"Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat kedudukannya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya." (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu HIbban)
Nabi ﷺ memasukkan akhlak mulia sebagai bagian dari kesempurnaan iman dalam sabdanya,
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
"Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah yang terbagus akhlaknya." (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi)
Karena itu laksanakan wasiat beliau ﷺ,
اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
"Bertakwalah engkau kepada Allah di mana saja berada, dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya perbuatan baik tersebut akan menghapuskannya, serta bergaulah bersama manusia dengan akhlak yang baik." (HR. Ahmad dan Tirmidzi dari Abu Dzar dan Mu'ad bin Jabal radhiyallahu 'anhuma)
Lalu kerjakan apa yang disabdakan beliau ﷺ berikut ini:
أحب الناس إلى اللّه أنفعهم، وأحب الأعمال إلى اللّه عز وجل، سرور تدخله على مسلم، أو تكشف عنه كربة، أو تقضي ديناً، أو تطرد عنه جوعاً، ولئن أمشي مع أخي المسلم في حاجة أحب إليَّ من أن أعتكف في المسجد شهراً
"Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat di antara mereka. Sedangkan amal yang paling dicintai oleh Allah 'Azza wa Jalla adalah kesenangan yang engkau masukkan dalam diri seorang muslim, atau engkau lenyapkan kesulitannya, atau membayarkan hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh sekiranya aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk memenuhi kebutuhannya lebih aku sukai daripada beri'tikaf sebulan di masjid (yakni masjid Nabawi)." (HR. Thabrani)
Seorang muslim juga diperintahkan agar berkata yang baik dan lembut agar menjadi pemberat timbangan kebaikannya. Rasulullah ﷺ bersabda,
وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ
"Perkataan yang baik adalah shadaqah (berpahala)." (Muttafaq 'alaih) bahkan tersenyumpun yang tidak harus mengeluarkan tenaga besar juga diberi pahala. "Dan senyuman di wajahmu kepada saudaramu juga shadaqah (berpahala)." (HR. Tirmidzi)
Arahan dari Nabi ﷺ untuk berakhlak baik dan menghilangkan bahaya sangat banyak sekali. Bahkan sejarah hidup Nabi ﷺ penuh dengan teladan dalam masalah ini untuk umatnya, baik akhlak beliau terhadap diri sendiri, terhadap para istrinya, tetangganya, kaum muslimin yang lemah, terhadap mereka yang masih bodoh, bahkan terhadap orang kafir.
Indikasi seseorang berakhlak baik dan berbudi pekerti mulia dapat dilihat dalam beberapa sifatnya, antara lain: banyak rasa malunya, tidak berbuat yang menyakiti hati orang, berkata jujur, sedikit bicara, banyak berbuat, tidak sering salah dan menyimpang, tidak berlebih-lebihan, banyak berbuat baik dan menyambung silaturahim, meredahkan diri, banyak sabar dan syukur, lemah lembut, penyayang, tidak bersikap kasar, tidak banyak mencela dan mencaci, tidak mengadu domba, tidak banyak menggunjing, tidak terburu-buru, tidak iri dan dengki, mencintai karena Allah dan meridhai karena-Nya, membenci karena Allah dan memusuhi karena-Nya, dan semisalnya.
Dan sesungguhnya siapa yang diberi semua ini ia telah diberi sesuatu yang sangat berharga. Oleh karenanya, hendaknya seseorang di samping berusaha memilikinya dan menanamkan dalam jiwanya, serta merealisasikan pada anggota tubuhnya, ia menguatkannya dengan memohonkan semua itu kepada Allah. Karena di tangan-Nya lah semua kebaikan. Tidak ada sesuatu yang terjadi di muka bumi ini kecuali dengan izin dan kehendak-nya. Dan di antara bentuk do’a memohon akhlak mulia didapatkan dalam do’a yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ di atas.
Wallahu a'lam.

Oleh : Hadhratusy Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari
Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling baik, terutama di bulan Ramadhan. Beliau ﷺ adalah manusia yang paling bagus tubuhnya dan akhlaknya, paling lunak telapak tangannya, paling harum baunya, paling sempurna akalnya, paling bagus pergaulannya, paling mengetahui Allah dengan ma’rifatnya, dan paling takut kepada Allah.
Beliau ﷺ tidak marah karena dirinya dan tidak benci karena dirinya, akan tetapi kemarahan beliau ﷺ jika larangan-larangan Allah Ta’ala dilanggar, maka ketika itu beliau ﷺ marah, dan tidak ada sesuatu yang bisa mereda marah beliau ﷺ sehingga beliau ﷺ memenangkan kebenaran, jika marah beliau ﷺ berpaling.
Akhlak beliau ﷺ adalah Al-Qur'an. Beliau ﷺ adalah orang yang paling tawadhu’ (rendah hati), memenuhi kebutuhan keluarganya, dan merendahkan diri di hadapan orang-orang lemah, bila dimintai sesuatu tidak pernah mengatakan “tidak”. Beliau ﷺ adalah manusia yang paling murah hati, manusia yang paling pemalu, dalam kebenaran tidak membedakan antara yang jauh dengan yang dekat, antara yang kuat dengan yang lemah.
Beliau ﷺ mengelilingi para istrinya dalam waktu semalam, dan membagi di antara mereka di tempat bermalam, pulang, dan belanja. Adapun dalam masalah cinta, beliau ﷺ bersabda,
اللَّهُمَّ هَذَا قَسْمِى فِيمَا أَمْلِكُ فَلاَ تَلُمْنِى فِيمَا لاَ أَمْلِكُ
"Ya Allah, ini pembagian yang saya miliki, maka janganlah Engkau mencelaku pada apa yang tidak saya miliki”.[1]
Beliau ﷺ adalah suami yang sangat bagus pergaulan dan akhlaknya terhadap istri-istri beliau. Rasulullah pernah memasukkan putri-putri sahabat Anshar ke rumah Sayyidah 'Aisyah radhiyallahu 'anha agar bermain bersamanya. Jika Sayyidah 'Aisyah radhiyallahu 'anha menginginkan sesuatu, beliau ﷺ tidak melarangnya dan menuruti keinginannya. Jika Sayyidah 'Aisyah radhiyallahu 'anha meminum dari suatu tempat, beliau ﷺ mengambilnya, lalu meletakkannya di mulut Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anhu lalu meminumnya. Beliau ﷺ bersandar di pangkuan Sayyidah 'Aisyah radhiyallahu 'anha dan membaca Al-Qur’an, sedangkan kepala beliau ﷺ di pangkuannya, dan mungkin Sayyidah 'Aisyah radhiyallahu 'anha dalam keadaan haid.
Jika hendak bepergian, beliau ﷺ mengundi para istrinya, maka siapa yang keluar bagiannya, maka beliau ﷺ keluar bersamanya. Beliau ﷺ bersabda,
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى
“Sebaik-baik kalian adalah yang lebih baik sikapnya terhadap keluarganya, dan saya adalah orang yang lebih baik dari kalian terhadap keluargaku”.[2]
Saat shalat Ashar, beliau ﷺ berkeliling ke rumah para istrinya, lalu mendekati mereka dan meneliti keadaan mereka. Jika telah datang waktu malam, beliau ﷺ kembali ke rumah istri yang mendapatkan gilirannya, lalu bermalam di tempatnya. Ketika bepergian dan datang di waktu malam, tidak mau mengetuk rumah istrinya di waktu malam, dan beliau ﷺ melarang hal itu.
Beliau ﷺ tidak pernah mencela makanan sama sekali, jika menyukainya, beliau lalu memakannya, jika tidak menyukainya beliau ﷺ meninggalkannya. Beliau ﷺ tidak pernah menolak yang ada dan tidak pernah membebani yang tidak ada. Tidak ada makanan halal dan baik yang disuguhkan, melainkan beliau ﷺ memakannya. Beliau ﷺ memakan makanan yang mudah, dan bersabda,
أنَا وَصُلَحَاءُ أُمَّتِي بُرَآءُ منَ التَّكَلُّف
“Saya dan umatku yang baik tidak mau memberat-beratkan diri (takalluf)”.[3]
Beliau ﷺ tidak mau makan dengan duduk bersandar. Nabi Muhammad ﷺ membaca bismillah pada awal makanannya dan membaca alhamdulillah pada akhirnya. Rasulullah suka manisan dan madu, dan sangat tertarik dengan makanan sejenis labu, dan beliau bersabda,
نِعْمَ الإِدَامُ الخَلُّ مَا أَقْفَرَ بَيْتٌ فِيهِ خَل
“Bumbu/lauk yang paling nikmat adalah cuka, dan tidaklah pernah sepi rumah yang di dalamnya ada cuka”.[4]
Beliau ﷺ makan dengan tiga jari dan mencucupi ketiga jari tersebut, lalu minum dengan duduk, ketika minum bernafas tiga kali di luar tempat minum. Beliau ﷺ bersabda, “Sesungguhnya hal itu lebih segar, lebih nikmat, dan lebih menyembuhkan”.
Imam Tirmidzi meriwayatkan, bahwa Nabi ﷺ bersabda,
لَا تَشْرَبُوا نَفَسًا وَاحِدًا كَشُرْبِ الْبَعِيرِ وَلَكِنْ اشْرَبُوا مَثْنَى وَثُلَاثَ وَسَمّوا إذَا أَنْتُمْ شَرِبْتُمْ وَاحْمَدُوا إذَا أَنْتُمْ فَرَغْتُم
“Janganlah kamu sekalian minum dengan satu nafas seperti minumnya onta, akan tetapi minumlah dua kali dan tiga kali, dan bacalah bismilah jika memulai minum dan bacalah alhamdulillah jika kamu telah selesai”.[5]
Ketika minum, beliau ﷺ memberikan pada orang yang berada di sebelah kanannya, meskipun orang yang berada di sebelah kirinya itu lebih tua.
Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anha berkata,
Rasulullah ﷺ keluar dari dunia dan perut beliau belum pernah kenyang dengan roti gandum, dan pernah selama satu bulan atau dua bulan di salah satu rumah beliau ﷺ tidak menyala api dapurnya. Beliau ﷺ mau memakan hadiah dan tidak mau memakan sedekah, dan membalas hadiah itu. Beliau ﷺ pernah menyengkal perutnya dengan batu karena lapar, dan pernah bermalam bersama keluarganya selama beberapa malam dengan keadaan lapar.
Rasulullah ﷺ tidak mau memperbanyak harta dunia semuanya, padahal Allah Ta’ala pernah menawarkan kunci gudang-gudang bumi semuanya, namun beliau ﷺ tidak mau menerimanya, dan memilih akhirat.
Beliau ﷺ pernah mengelem sandalnya dengan tangan beliau yang mulia, dan menambal pakaiannya dan timbanya. Beliau juga memerah kambingnya, mencuci pakaiannya, melayani keluarganya dan dirinya sendiri, serta mengangkat batu bata bersama para sahabat untuk membangun masjid. Rasulullah juga menjenguk orang sakit, dan menjaganya dari hal-hal yang menyakitinya, menghadiri jenazah (takziah), dan berjalan bersama para janda, orang-orang miskin, dan orang-orang lemah, serta menghadiri undangan orang kaya atau miskin, orang bawahan atau orang terhormat, dan tidak pernah meremehkan siapapun.
Jika berjalan bersama para sahabat, beliau ﷺ berjalan di belakang dan para sahabat beliau ﷺ berjalan di depan. Beliau ﷺ bersabda, “Biarkan di belakangku untuk para malaikat”. Oleh karena itu dikatakan dalam hadits, bahwa beliau ﷺ menghalau para sahabatnya, berjalan dengan tidak memakai sandal dan terkadang memakai sandal, dan berjalan bersama para sahabat dengan sendiri-sendiri dan berkelompok.
Kadang-kadang beliau ﷺ duduk dengan lutut, duduk dengan bersila, duduk dengan bersandar, dan sering kali duduk memeluk lutut dengan kedua tangannya, dan duduk di atas tanah, di atas tikar, dan di atas permadani. Ketika Adiy bin Hatim datang, beliau ﷺ mengajaknya ke rumah, maka seorang budak wanita memberikan bantal kepada beliau ﷺ agar duduk di atasnya, namun beliau ﷺ meletakkan bantal tersebut antara diri beliau dan Adiy, kemudian beliau duduk di atas lantai. Adiy berkata, ”Maka saya tahu, bahwa beliau ﷺ adalah bukan raja”.
Beliau ﷺ adalah orang yang paling fasih dan paling indah pembicaraannya dengan berbicara yang singkat dan padat, mengulangi pembicaraannya tiga kali untuk memahamkan. Ucapan beliau ﷺ jelas dan bisa dipahami setiap orang yang mendengarnya, tidak berbicara yang tidak ada perlunya, tidak bebicara kecuali pembicaraan yang bisa diharapkan pahalanya, tidaklah duduk atau berdiri kecuali berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla. Beliau ﷺ berkhutbah di atas tanah, di atas mimbar, dan di atas onta. Saat berkhutbah memerah kedua matanya, tinggi suaranya, keras emosinya, seperti pemberi peringatan pada pasukan. Beliau ﷺ berkhutbah,
“Amma ba’du, maka sesungguhnya sebaik-baik pembicaraan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ , sejelek-jelek perkara adalah hal-hal baru yang tidak dibenarkan oleh Al-Qur'an dan Hadits, setiap bid’ah itu sesat”.
Tidaklah beliau ﷺ berkhutbah melainkan membukanya dengan memuji Allah. Beliau ﷺ berkhutbah dengan berdiri, jika menaiki mimbar, menghadapkan wajahnya kepada hadirin, kemudian mengucapkan, “Assalamu 'alaikum”. Kebanyakan khutbah beliau ﷺ berbicara dengan Al-Qur'an, terkadang berkhutbah dengan bersandar pada tongkat, terkadang bersandar pada busur panah, terkadang singkat khutbahnya, terkadang panjang sesuai dengan kebutuhan dan kemaslahatan masyarakat
Khutbah beliau berkisar tentang pujian kepada Allah, mensyukuri nikmat-nikmat-Nya dan menerangkan sifat-sifat kesempurnaan Allah, mengajarkan sendi-sendi (kaidah-kaidah) Islam, menerangkan surga dan neraka serta tempat kembali (akhirat), memerintahkan bertaqwa kepada Allah, menerangkan hal-hal yang membuat Allah murka dan hal-hal yang diridhai Allah.
Beliau ﷺ berkendaraan onta, kuda, dan bagal, (dan yang sering beliau ﷺ naiki adalah onta dan kuda, karena bagal tidak popular di bumi Arab. Kadang-kadang mengendarai kuda dengan memakai pelana atau tanpa pelana, terkadang memberi semangat kudanya untuk berlari kencang, terkadang membonceng istrinya atau sahabatnya di belakangnya di atas kendaraan onta dan keledai. Beliau sering mengendarai sendirian dan tidak membiarkan seseorang berjalan di belakangnya.
Jika tidur dan beristirahat, beliau ﷺ tidur dengan miring di atas pinggang beliau yang kanan dengan menghadap kiblat. Kadang-kadang tidur di atas kasur, dan kadang-kadang tidur di atas tikar, kadang-kadang tidur di atas tempat tidur dan kadang-kadang tidur di atas lantai. Kasur beliau ﷺ terbuat dari kulit isi sabut. Ketika beranjak ke tempat tidurnya untuk tidur, beliau ﷺ berdo'a,
بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَحْيَا وَأَمُوتُ
“Dengan menyebut nama-Mu ya Allah saya hidup dan saya mati”.[6]
Beliau ﷺ tidur di atas sisi pinggang sebelah kanan dan meletakkan tangan kanannya di pipi kanannya, kemudian berdo'a,
اللَّهُمَّ قِنِى عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَك
“Ya Allah, lindungilah saya dari siksa-Mu di hari Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu”.[7]
Jika bangun dari tidurnya, beliau ﷺ berdo'a,
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُور
“Segala puji bagi Allah, yang telah menghidupkan saya kembali setelah mematikan saya, dan hanya kepadanya tempat kembali”[8]. Kemudian beliau ﷺ bersiwak.
Beliau ﷺ tidur di awal malam dan bangun di akhir malam, kadang-kadang tidak tidur di awal malam untuk kepentingan umat Islam. Jika tidur, terpejam kedua matanya dan tidak tidur hatinya, jika sedang tidur tidak ada yang berani membangunkan sampai beliau ﷺ sendiri yang bangun.
Beliau ﷺ banyak berdzikir dan selalu berfikir, jika tidak menyukai sesuatu bisa diketahui dari raut wajah beliau, sering kali tertawa hanya berupa senyuman, dan kadang-kadang tertawa sampai tampak gigi geraham beliau. Bila menangis tidak bersuara keras sebagaimana jika tertawa tidak terbahak-bahak, akan tetapi mengalir air mata dari kedua mata beliau. Jika menangis terkadang karena kasihan kepada mayit, dan terkadang karena khawatir dan kasihan kepada umat beliau, kadang-kadang karena takut kepada Allah, kadang-kadang di saat mendengar Al-Qur'an al-Karim, yaitu tangisan karena rindu, takut, atau rasa mengagungkan.
Ketika putra beliau ﷺ yang bernama Ibrahim radhiyallahu 'anhu wafat, kedua mata beliau mengalirkan air mata dan menangis karena sayang padanya, dan bersabda, “Telah mengalir air mata dan hati bersedih, dan saya tidak mengucapkan apa-apa kecuali yang diridhai Tuhan saya, sungguh karena kepergianmu, wahai Ibrahim, kami semua berduka”.
Beliau ﷺ bergurau dan tidak mengatakan di dalam guraunya kecuali yang benar. Beliau kadang bermain teka-teki dan tidak berkata dalam teka-tekinya kecuali yang benar, dan bersedia menerima alasan orang yang udzur. Jika menegur hanya berupa sindiran, memerintahkan bersikap halus (kasih sayang) dan menganjurkannya, melarang bersikap kasar, menganjurkan untuk memaafkan dan berakhlak mulia.
Beliau juga suka berharum-harum dan tidak suka bau yang tidak enak, suka mendahulukan yang sebelah kanan di dalam bersuci, bersisir, dan memakai sandal, mau menerima dan memberi) dan di dalam segala urusannya, tangan kanan beliau untuk makanan, minuman, dan bersuci, dan tangan kiri beliau untuk toilet dan kotoran-kootoran yang lain.
Majlis beliau ﷺ adalah merupakan majlis ilmu. Dalam diri beliau ada kemurahan hati, rasa malu, amanah, sabar, dan ketenteraman, tidak ada suara yang dikeraskan, tidak membicarakan wanita. Orang-orang yang hadir di majlis itu saling mewasiatkan dengan ketakwaan, saling kasih sayang, mewibawakan yang tua, menyayangi yang muda, mengutamakan yang membutuhkan, menjaga orang yang asing, mengeluarkan dalil-dalil yang menunjukkan kebaikan. Para sahabatnya saling menyayang, saling menanyakan keadaan mereka, menghormati setiap orang yang dihormati kaumnya, dan menyerahkan urusan kaumnya kepada orang yang dihormati kaumnya.
Beliau ﷺ adalah orang yang paling baik muamalahnya, jika berhutang membayarnya dengan yang lebih baik dari yang dihutang, jika meminjam dari seseorang, membayarnya padanya dan mendoakannya, dengan do'anya,
بَارَكَ اللَّه فِي أَهْلِك وَمَالِك
“Semoga Allah memberkahi keluargamu dan hartamu”.[9]
Sesungguhnya balasan pinjam (hutang) adalah memuji dan membayarnya. Beliau ﷺ melakukan transaksi jual beli, bersekutu (syirkah), mewakilkan (wakalah) dan menerima perwakilan, memberi hadiah dan menerima hadiah, memberi dan menerima pemberian, menyewakan dan menyewa, meminjamkan dan meminjam, menghutangi dan berhutang, menggadaikan dan menerima gadai, menolong dan meminta tolong, memberikan jaminan, memberi nafkah, mewakafkan hartanya dan bersedekah. Semuanya dilakukan dengan cara yang paling bagus.
Beliau ﷺ bukanlah orang yang porno dan juga bukan orang yang suka berkata kotor. Beliau mendengarkan syair-syair dan memberi upah kepada yang benar, tidak membalas kejelekan dengan kejelekan, bahkan mengampuni dan memaafkannya, tidak pernah memukul pembantu, tidak pernah memukul wanita, dan tidak pernah memukul apapun kecuali berjihad di jalan Allah. Juga tidak disuruh memilih di antara dua pilihan kecuali memilih yang paling mudah (paling ringan) selama tidak mengandung dosa.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata,
مَا مَسِسْتُ دِيبَاجًا وَلاَ حَرِيرًا أَلْيَنَ مِنْ كَفِّ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم
“Saya belum pernah menyentuh kain sutera yang lebih lembut dari telapak tangan Rasulullah ﷺ.,” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim). Dalam riwayat yang sama “Saya telah melayani Rasulullah ﷺ selama sepuluh tahun, beliau ﷺ sama sekali belum pernah mengatakan “Uf/cih”. Dan jika saya melakukan sesuatu, beliau ﷺ belum pernah mengatakan “Mengapa kamu lakukan itu?”. Dan jika saya belum melakukan sesuatu, beliau ﷺ tidak pernah mengatakan “Hendaklah kamu lakukan begini”.[10]
Sungguh Allah Ta’ala telah mengumpulkan kesempurnaan akhlak dan keindahan karakter pada diri Rasul-Nya yang mulia ﷺ, memberikan ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang terakhir kepada beliau ﷺ, dan memberikan apa saja yang membawa keselamatan dan keberuntungan. Beliau ﷺ adalah buta huruf (ummi), tidak bisa membaca buku dan tidak punya guru dari manusia, diberikan kepada beliau ﷺ apa saja yang belum diberikan kepada siapapun di alam semesta ini. Allah telah memilih beliau ﷺ dari orang-orang terdahulu dan terakhir. Rahmat dan salam Allah senantiasa dan selalu teruntuk beliau sampai hari kiamat. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
*Diterjemahkan oleh Ustadz Zainur Ridlo, M.Pd.I. dari kitab Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyidi al-Mursalin karya Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari.
[1] HR. Imam Abu Dawud dan Imam Hakim.
[2] HR. Imam Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah.
[3] Mirqatu al-Mafatih, Syarah Misykat al-Mashabih, jilid 6, hal. 409. Tajul Arus, jilid 1, halaman 6104.
[4] HR. Imam Muslim dan Imam Ahmad.
[5] HR. Imam Tirmidzi. Lihat “Mausu’ah Ad-Difa’ ‘An Rasulillah ﷺ .”, jilid 3, hal. 388.
[6] HR. Imam Bukhari.
[7] HR. Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, dan Imam Ahmad.
[8] HR. Imam Bukhari.
[9] Fathul Bari, Imam Ibnu Hajar, jilid 14, hal. 448.
[10] HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim.
[2] HR. Imam Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah.
[3] Mirqatu al-Mafatih, Syarah Misykat al-Mashabih, jilid 6, hal. 409. Tajul Arus, jilid 1, halaman 6104.
[4] HR. Imam Muslim dan Imam Ahmad.
[5] HR. Imam Tirmidzi. Lihat “Mausu’ah Ad-Difa’ ‘An Rasulillah ﷺ .”, jilid 3, hal. 388.
[6] HR. Imam Bukhari.
[7] HR. Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, dan Imam Ahmad.
[8] HR. Imam Bukhari.
[9] Fathul Bari, Imam Ibnu Hajar, jilid 14, hal. 448.
[10] HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Sumber: http://facebook.com/TebuirengOnline/

Dari Abu Darda' radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
مَا مِنْ شَيْءٍ فِي اَلْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ اَلْخُلُقِ
"Tidak ada suatu amal perbuatan pun dalam timbangan yang lebih baik daripada akhlak yang baik." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Hadits shahih menurut Tirmidzi)
Berbicara soal akhlak yang baik, seolah hanya sesuatu yang ringan, namun pada kenyataannya berat untuk diterapkan dalam kehidupan secara maksimal. Apalagi di masa sekarang ini, akhlak yang baik mulai diabaikan keberadaannya oleh sebagian umat Islam. Padahal akhlak juga menjadi benteng di era peradaban modern.
Akhlak dalam Islam memiliki cakupan yang sangat luas, mulai dari akhlak kepada Sang Pencipta, akhlak kepada sesama umat manusia, dan akhlak kepada lingkungan sekitar.
Akhlak juga bagian dari inti keimanan seorang muslim. Seseorang yang benar-benar terkategori mukmin (beriman) maka dalam tingkah laku kesehariannya akan tercermin akhlak yang baik, tidak sebaliknya. Nabi ﷺ bersabda,
إِنَّ مِنَ اْلأِيْمَانِ حُسْنُ اْلخُلُقِ وَأَفْضَلُكُمْ إِيْمَانًا أَحْسَنُكُمْ خُلقًا
“Sesungguhnya sebagian daripada iman adalah bagusnya akhlak, dan yang paling utama di antara kalian imannya adalah yang paling bagus akhlaknya” (HR. Imam Ath-Thabrani)
Perilaku yang baik dalam kehidupan, tentunya akan mengantarkan seseorang kepada keberuntungan baik di dunia maupun akhirat. Sebab tolak ukur akhlak seorang muslim adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Wallahu a'lam

Adab dalam pandangan Islam bukanlah perkara remeh. Bahkan ia menjadi salah satu inti ajaran Islam. Demikian penting perkara ini, hingga para ulama salaf sampai menyusun kitab khusus yang membahas tentang adab ini.
Adab adalah menggunakan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan Al-Akhlaqul Karimah.
Dalam Islam, masalah adab dan akhlak mendapat perhatian serius yang tidak didapatkan pada tatanan manapun. Hal ini dikarenakan syariat Islam adalah kumpulan dari aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah. Ini semua tidak bisa dipisah-pisahkan. Manakala seseorang mengesampingkan salah satu dari perkara tersebut, misalnya akhlak, maka akan terjadi ketimpangan dalam perkara dunia dan akhiratnya. Satu sama lainnya ada keterkaitan sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِفَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berbuat baik terhadap tetangganya.” (HR. Muslim, Bab Al-Hatstsu’ala Ikramil Jaar wadh Dhaif)
Di sini terlihat jelas bagaimana kaitan antara akidah dan akhlak yang baik. Oleh karena itu, Nabi ﷺ menafikan keimanan orang yang tidak menjaga amanah dan janjinya.
لاَ إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ، وَلاَ دِيْنَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَهُ
"Tidak ada iman bagi orang yang tidak menjaga amanah dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menjaga janjinya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)
Bahkan suatu ibadah tidak ada nilainya manakala adab dan akhlak tidak dijaga. Nabi ﷺ bersabda,
Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh dengan (amalan) meninggalkan makan dan minumnya (puasa, red.).” (HR. Al-Bukhari no. 1903). Yakni puasanya tidak dianggap.
Allah Ta’ala telah menjelaskan bahwa adab memiliki pengaruh yang besar untuk mendatangkan kecintaan dari manusia, sebagaimana firman-Nya,
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut, terhadap mereka. Seandainya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159)
Asy-Syaikh as-Sa’di menerangkan: “Akhlak yang baik dari seorang pemuka (tokoh) agama menjadikan manusia tertarik masuk ke dalam agama Allah Ta’ala dan menjadikan mereka senang dengan agama-Nya. Di samping itu, pelakunya akan mendapat pujian dan pahala yang khusus. (Sebaliknya) akhlak yang jelek dari seorang tokoh agama menyebabkan orang lari dari agama dan benci kepadanya, di samping bagi pelakunya mendapat celaan dan hukuman yang khusus. Inilah Rasulullah ﷺ, seorang yang ma’shum (terjaga dari kesalahan). Allah Ta’ala mengatakan kepadanya apa yang Allah Ta’ala katakan (pada ayat ini). Bagaimana dengan selainnya? Bukankah hal yang paling harus dan perkara terpenting adalah seseorang meniru akhlaknya yang mulia, bergaul dengan manusia dengan apa yang Nabi ﷺ contohkan berupa sifat lemah lembut, akhlak yang baik dan menjadikan hati manusia suka? Ini dalam rangka melaksanakan perintah Allah Ta’ala dan menarik para hamba ke dalam agama-Nya.” (Taisir Al-Karimirrahman hal. 154)
Wallahu a'lam bish-shawab











